33

Tanggal 21 Juli kemarin, akhirnya saya melambaikan perpisahan pada usia 33 tahun. Usia yang ternyata menjadi sangat berkesan karena nyaris dalam satu tahun saya full dilimpahi berkah dalam bentuk yang beraneka ragam. Mulai dari berkah yang menggembirakan sampai berkah yang berupa ujian.

Memulai Studi S2

Bulan Agustus tahun lalu, saya resmi diterima sebagai mahasiswa di program studi Magister Keolahragaan ITB. Ini bisa dibilang adalah cita-cita sejak lama tapi juga tidak lama-lama amat 😅 Saya sudah lama yakin akan melanjutkan studi ke jenjang S2, tapi saya tidak pernah yakin pada jurusan yang akan saya ambil.

Pada akhirnya, yang membuat saya yakin untuk mengambil jurusan ini adalah karena selama enam tahun terakhir profesi yang saya tekuni adalah praktisi sekaligus pengajar di bidang olahraga. Memang tidak semua orang menentukan keputusan studi berdasarkan profesi atau pekerjaannya. Tapi untuk saya, bisa menekuni satu profesi selama enam tahun lamanya adalah wujud nyata ketertarikan luar biasa yang saya miliki terhadap bidang ini. Kalau pekerjaan ini hanya saya jalani sebagai rutinitas atau kewajiban saja, mungkin tidak akan sampai tiga tahun saya betah menjalaninya. Ada sesuatu tentang bidang ini yang membuat saya merasa gembira sekaligus tertantang dan fulfilled ketika menjalaninya.

Menjadi pencapaian sekaligus PR selanjutnya ketika setelah melewati dua semester pertama ternyata saya berhasil mendapatkan IPK 4.00. Bukan berniat sombong atau pamer, tapi buat saya ini menjadi bukti lain lagi bahwa saya memang berada pada jalan yang ‘benar’. IPK itu menunjukkan bahwa saya menikmati proses belajar yang saya jalani, sekaligus terasa sebagai pertanda bahwa Tuhan meridhoi jalur yang saya pilih. Mudah-mudahan saja benar ya 😄

Hamil dan Melahirkan

Sekitar sebulan setelah menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswa, saya mengetahui kalau saya positif hamil. Ini jelas sesuatu yang sudah lama dinantikan oleh saya dan Fikri.

Selayaknya wanita hamil pada umumnya, mengetahui kehamilan memunculkan banyak perasaan yang kontradiktif. Bahagia namun juga takut. Bersemangat tapi juga sedih. Khawatir tapi juga berbunga-bunga. Dalam suasana hati yang demikian, saya bersyukur karena menjadi orang yang hamil ‘belakangan’ di antara teman-teman maupun keluarga 😆 Tentu saja karena saya jadi punya banyak tempat untuk bertanya dan menerima saran yang tepat.

Meskipun begitu, secara tidak sengaja saya dan Fikri memilih untuk menjadikan perjalanan kehamilan ini sebagai sesuatu yang pribadi dan tidak disebarkan terlalu luas. Selain keluarga, hanya beberapa teman dekat dan beberapa orang yang memang kebetulan terlibat pekerjaan atau kegiatan yang sama yang kami kabari. Sisanya kami biarkan tahu sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Bukan sok rahasia, tapi kami memang tidak menemukan alasan untuk menggembar-gemborkan. Artis juga bukan, selebriti apalagi 😅 Saya baru menyebutkan hal ini di Instagram ketika saya merasa sudah saatnya saya mengistirahatkan diri dari kegiatan mengajar yoga di usia kehamilan 33 minggu. Kebetulan juga bertepatan dengan dimulainya libur kuliah semester dua.

Mimpi Fikri untuk S3 Terwujud

Dua bulan setelah mengetahui kehamilan saya, kami mendapat kabar bahwa Fikri diterima untuk melanjutkan studinya ke jenjang S3 di Edinburgh, Skotlandia. Kami menerima kabar ini beberapa saat setelah mengabari keluarga tentang kehamilan saya. Jadi, ketika baru membocorkan satu rahasia, muncul satu rahasia lagi yang harus kami sampaikan 😂

Tentu perasaan kami berdua harus ‘dirapikan’ dulu sebelum kabar ini kami sampaikan ke pihak lain. Kami tidak mau sampai kabar gembira ini justru jadi sulit untuk kami syukuri. Kami coba hitung-hitung waktu keberangkatan Fikri dan waktu saya akan melahirkan, lalu mencoba menyusun skenario terbaik untuk menjalani keduanya. Kami pastikan dulu kami tahu langkah yang akan kami ambil sebelum mengabari orang-orang lain atas kabar ini.

Pada akhirnya, perhitungan kami meleset semua… menjadi jauh lebih baik daripada yang kami perkirakan. Selain waktu kelahiran anak saya lebih cepat beberapa minggu dari perkiraan, ternyata urusan visa Fikri pun mengalami keterlambatan. Fikri yang mulanya sudah siap hanya akan bisa bermain dan mengenal anak kami selama 2-3 minggu, akhirnya memiliki waktu 7 minggu untuk bersama-sama dengannya.


Tiga hal ‘besar’ itu terjadi beruntun kepada saya dan Fikri ketika usia saya 33 tahun. Sempat ada malam-malam di mana kami berdua bingung sekali atas do’a-do’a kami yang terjawab sekaligus dalam waktu yang nyaris bersamaan—seolah-olah Tuhan sedang mempertanyakan sejauh mana saya dan Fikri bisa mensyukuri berkah yang Dia berikan.

Tidak bisa dipungkiri, terjadinya hal-hal itu banyak menggoda kami untuk curiga atas satu sama lain. Godaan kecurigaan terbesar adalah:

Apakah dia mau tetap memikirkan kepentingan saya di tengah-tengah kesibukannya mewujudkan cita-citanya?

Sangat besar dan banyak godaan kami untuk menilai satu sama lain sebagai orang yang egois dan tidak mau berkorban untuk keluarga. Pada akhirnya, yang menjauhkan kami dari bertengkar atau berselisih karena hal ini adalah dengan menyadari bahwa kecurigaan-kecurigaan tersebut hanya ada di dalam pikiran kami saja. Kami berdua tentu selalu menomorsatukan keutuhan keluarga kecil kami, dan berusaha untuk terus menjadi lebih baik semata-mata untuk keluarga kami.

Paling tidak, usia 33 kemarin secara nyata benar-benar menunjukkan kepada saya bagaimana air dapat menjadi berkah, namun air bah dapat menjadi musibah. Memang dibutuhkan ketegaran dan usaha luar biasa untuk menyikapi berkah yang datang berlebihan, dan sudah sepatutnya hal itu justru membuat saya semakin yakin untuk mengandalkan Dia Yang Maha Kuat, Dia Yang Maha Besar. Mengandalkan diri saya atau Fikri adalah langkah yang sia-sia, karena sungguh kami memang tidak berdaya dan tidak tahu apa-apa.

Hari terakhir saya di usia 33 tahun pun akhirnya menjadi lembaran cerita baru dalam perjalanan rumah tangga kami: long distance marriage. Di antara sekian banyak hari, ternyata hari itulah Fikri harus berangkat mewujudkan mimpinya. Paling tidak, saya jadi tahu pasti do’a apa yang akan saya panjatkan ketika hari berganti dan usia saya bertambah: saya hanya ingin keluarga kecil saya cepat dipersatukan bersama lagi. Tapi untuk bisa sampai ke sana, saya harus menyelesaikan dulu studi saya dan merawat anak kami dengan baik 💪

Bukan basa-basi jika saya dan Fikri memohon kesediaan kalian yang membaca tulisan ini untuk mendoakan kami bertiga. Kami butuh sekali do’a. Sebanyak-banyaknya, sekuat-kuatnya. Mudah-mudahan kalian tidak merasa keberatan untuk menyelipkan nama kami dalam do’a kalian malam ini 🙏

Namasté,

Dyah Synta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s