Catatan Sepekan: Hanya Meracau

Hai, apa kabar?

Hari ini adalah akhir pekan pertama di bulan kesepuluh tahun 2020–bulan kesekian yang kita jalani di bawah ketakutan dan kekhawatiran atas koronces. Semakin banyak orang-orang yang menceritakan pengalamannya seputar virus ini. Beberapa orang yang saya follow di media sosial mengaku sudah terinfeksi dan–alhamdulillah–sudah pulih pula. Kata orang-orang, virus ini sekarang terasa semakin ‘dekat’ karena mulai menghinggapi orang-orang di lingkaran yang dekat dengan keseharian mereka. Di keluarga saya sendiri, adik kandung dari ayah saya sudah wafat karena virus ini di bulan April. Sekarang, saya hanya berharap virus ini tidak bergerak lebih mendekat lagi ke orang-orang yang saya sayangi.

Terlepas dari segala kerusuhan yang ia timbulkan, kehadiran virus yang mengubah gaya hidup ini sebenarnya juga membawa pengaruh positif. Saya mengamati semakin banyaknya orang yang–secara sengaja maupun tidak–menerapkan prinsip ‘if you cannot go outside, then go inside’. Semakin banyak yang rutin berolah raga, menghabiskan lebih banyak waktu dengan hobi yang sudah lama terabaikan, atau memilih sumber penghasilan yang lebih sesuai dengan passion-nya dalam berkarya. Mungkin pandemi ini berhasil menyadarkan banyak orang akan singkatnya hidup di dunia, dan betapa banyaknya makna hidup yang selama ini terabaikan karena fokus yang tertambat pada apa yang terjadi ‘di luar’.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri atau mencari pujian, saya pun mengakui adanya beberapa perubahan positif dalam keseharian saya. Karena tersadar bahwa tubuh saya berada dalam status obesitas berkat pola makan yang acak-acakan sejak GERD saya menggila bulan Desember lalu, saya memutuskan untuk memperbaiki asupan makanan sehari-hari. Saya jadi rutin memasak makanan saya sendiri, yang berarti juga bertambah frekuensi mencuci piring dan pancinya 😆 Karena saya tetap mempertahankan rutinitas olah raga, hingga saat ini berat badan saya sudah menyusut 8 kg. Bukan angka yang fantastis memang, tapi saya jadi merasa berada dalam kondisi terbugar seumur hidup saya. Bahkan saya merasa berada dalam kondisi kebugaran yang lebih baik daripada ketika saya menamatkan full marathon dulu–meskipun dari segi endurance ya tentu lebih buruk, hahaha. Yah, kebugaran kan bukan hanya soal endurance semata 😀

View this post on Instagram

[Saya pernah obesitas 😁] • Setelah mengalami GERD terparah bulan Desember 2019 di mana asam lambung saya naik sampai membakar saluran eustachius di telinga, ternyata saya menjadi begitu takut penyakit itu akan datang kembali. Jika setiap kali kambuh asam lambung saya semakin tinggi naiknya, maka kambuh berikutnya akan naik ke mana lagi? 🤦‍♀️ Saya benar-benar parno luar biasa. • Dan ternyata benar adanya, segala kemelekatan adalah sumber penderitaan. Kekhawatiran berlebihan saya kali itu membawa saya pada satu kebiasaan pola makan yang buruk, yaitu pola ‘ganjel aja dulu deh’. Di antara sarapan-makan siang-makan malam, saya rutin mengonsumsi ‘pengganjal’ untuk bekal berangkat mengajar atau ke gym. • Saat itu, saya banyak menghabiskan waktu di luar rumah, jadi jarang sekali menyiapkan makanan yang proper untuk diri saya sendiri. Walhasil, ‘ganjelan’ saya ya berupa… para penghuni rak-rak di minimarket—yang mudah ditemui, mudah dikonsumsi, dan.. penuh tepung serta gula buatan 😅😅😅 • Tidak perlu waktu lama, tubuh saya yang tadinya berada di kondisi ‘balanced’ (menurut smart scale yang ada di rumah saya) lalu berubah status menjadi… ‘OBESE’ 😭 Iya, beberapa bulan yang lalu saya (ternyata) sempat obesitas 😅 Saat itu BMI saya masih tergolong normal, tapi kadar lemak di tubuh saya hampir mencapai 40% 🙈 • [Cerita dilanjutkan di kolom komentar ya 😊]

A post shared by Synta 🕯#LovingLifeThroughYoga (@dyahsynta) on

Memiliki lebih banyak waktu luang pun kini sudah bisa saya sikapi dengan lebih bijak. Tentu saja, tidak terjadi sejak awal. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat benar-benar memaksimalkan waktu luang ini untuk leyeh-leyeh–karena memang merasa seperti menjalani liburan akhir semester waktu sekolah dulu 😆 Sekarang, saya sudah bisa menerima banyaknya waktu luang ini sebagai sesuatu yang biasa saja, alias tidak istimewa. Saya mulai menyusun timetable agar keseharian saya lebih produktif dan tidak hanya terpaku pada kegiatan-kegiatan khas liburan. Saya mulai menyempatkan untuk rutin mendengar kajian online meskipun tidak dalam durasi yang istimewa. Sempat juga menamatkan kuliah online meskipun terasa terseok-seok, hehe.

Satu hal yang baru saya sadari kemarin adalah bahwa dengan kewajiban untuk mengenakan masker setiap keluar rumah, saya jadi sangat kekurangan kesempatan untuk bersedekah lewat senyuman. Artinya, saya harus lebih aktif dalam mengisi ladang sedekah saya yang lainnya. Mungkin ini artinya saya harus lebih banyak berbagi ilmu, harta, atau ucapan yang baik–karena kalau memaksakan tetap banyak berbagi senyuman, mungkin jadinya saya malah membagi-bagikan virus dan membahayakan kesehatan orang lain.

Tidak ada topik spesifik dalam catatan kali ini, selain saya hanya sedang berusaha mengisi slot waktu yang saya tetapkan untuk mengerjakan sesuatu yang berguna dan refreshing setiap minggunya–salah satu ikhtiar untuk meningkatkan produktivitas dan mencatatkan ide-ide yang ada di dalam kepala sambil berdoa dipertemukan dengan lagu lo-fi baru yang menarik di Spotify.

Sudah ada perubahan apa yang positif dalam hidupmu selama masa pandemi ini? Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan dalam bersyukur, ya 🙂

Namasté,

Dyah Synta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s