Menjaga Hati*, Rahasia Panjang Usia

*) ‘Hati’ yang dimaksud adalah jantung, terjemahan dari kata ‘heart’ dalam Bahasa Inggris.

(Foto diambil dari dokumentasi acara International Women’s Day 2020 yang diadakan oleh Jakbabes [link], diabadikan oleh PelariPelarian [link])

Saya memiliki kekaguman tersendiri atas filosofi mengenai kesehatan dari belahan dunia timur. Beberapa prinsipnya terdengar begitu sederhana–bahkan nyaris terlalu sederhana–namun jika dipikirkan lagi, sebenarnya sangat masuk akal dan penting untuk diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu contohnya adalah prinsip yang saya dengar dari guru saya, Cristi Christensen [link], ketika saya mengambil yoga teacher training di Kirana Yoga School [link] empat tahun yang lalu. Saking mengenanya prinsip ini, sampai sekarang dialah yang menjadi salah satu pegangan utama saya dalam keseharian. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, mungkin artinya kurang lebih begini:

“Setiap manusia terlahir di dunia dengan ‘jatah’ detak jantung masing-masing. Manusia akan meninggal ketika sudah habis jatah detak jantungnya.”

– Cristi Christensen

Sejujurnya, prinsip ini belum pernah saya dengar di manapun sebelumnya. Mungkin karena itu, ketika pertama kali mendengarnya saya merasa ini adalah prinsip yang cukup absurd 😆 But again, setelah lama nyantol di kepala, lama-lama saya merasa prinsip ini justru tidak terbantahkan.

Semua orang sepertinya sudah paham–atau paling tidak pernah mendengar–bahwa gaya hidup sehat akan membawa ‘hadiah’ berupa umur yang panjang. Visi gaya hidup sehat ini kemudian diturunkan dalam beberapa misi yang–lagi-lagi–sepertinya sudah pernah didengar oleh semua orang: berolah raga teratur, menjaga asupan makanan sehat, dan menjauhi stress.

Boleh percaya, dan boleh tidak–tapi ketiga misi tersebut pada hakekatnya adalah strategi utama untuk mengirit jatah denyut jantung manusia. Paling tidak, begitulah menurut saya 😀

Berolah Raga Teratur

Sebagian besar olah raga adalah kegiatan yang menaikkan hitungan denyut jantung dalam durasi tertentu. Jika dibahas lebih spesifik lagi, olah raga yang bersifat cardio–alias melatih otot jantung–adalah yang paling efektif untuk menciptakan efek ini. Contoh olah raganya adalah jalan kaki, jogging, berenang, bersepeda, hiking, dancing, senam aerobik, skipping, dan banyak lagi. Intinya, kelompok ini terdiri dari olah raga-olah raga yang membuat kita bernapas lebih ngos-ngosan, membuat suhu tubuh cepat naik, dan biasanya juga cepat berkeringat dalam jumlah banyak.

Sedikit terdengar bertentangan dengan filosofi ‘jatah denyut jantung’ tadi, ya? Logikanya, jika saat melakukan olah raga cardio jantung kita berdenyut lebih cepat, maka seharusnya jatah denyut jantung kita menjadi lebih cepat habis, ‘kan?

Betul–jika jantung kita berada dalam kondisi yang stagnan, alias tidak meningkat kualitasnya.

Kenyataannya, olah raga cardio–seperti namanya–adalah olah raga yang begitu manjur untuk menguatkan otot jantung. Saking manjurnya, jika seseorang rutin melakukan olah raga ini, maka jantungnya dapat bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Artinya, dengan berdenyut lebih sedikit (jika dibandingkan dengan jantung yang tidak terlatih), ia sudah dapat menyelesaikan tugas memompa darah ke otak dan seluruh tubuh dengan baik. Artinya lagi, dengan berolah raga cardio selama–katakanlah–30 menit, jantung kita dapat ‘mengirit’ denyutnya untuk 23,5 jam berikutnya.

Manfaat olah raga tidak berhenti di situ saja, karena masih ada lagi jenis olah raga lain yang tidak menaikkan irama denyut jantung dengan drastis–seperti latihan beban, yoga, pilates, dan sebagainya. Olah raga-olah raga jenis ini lebih memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas otot-otot muskuloskeletal–alias otot tubuh–seperti otot perut, otot lengan, otot punggung, dan otot kaki.

Meskipun tidak secara langsung membawa dampak pada performa otot jantung, memiliki otot tubuh yang kuat dan fleksibel juga dapat mempengaruhi ‘jatah denyut jantung’. Ini disebabkan karena tubuh dilatih menjadi lebih kuat, tangguh, dan memiliki mobilitas yang baik–sehingga kegiatan-kegiatan yang semula membuat irama napas menjadi tersengal-sengal bisa terasa lebih ringan dan mudah.

Contoh mudahnya, latihan menguatkan otot tubuh akan membuat kita merasa lebih ringan saat menaiki tangga, mengangkat tas belanjaan, mengganti galon air mineral, dan sebagainya. Sementara, memiliki fleksibilitas yang baik akan membuat kita memiliki ruang gerak yang lebih luas, mengakibatkan kita bisa melakukan gerakan meraih, memuntir, melenting, dan sebagainya, dengan lebih nyaman dan leluasa. Fleksibilitas yang baik pun akan membuat otot-otot di tubuh lebih mudah relaks. Akhirnya, jantung kita pun jadi berdenyut lebih irit saat mengeksekusi kegiatan sehari-hari selama 24 jam.

Beberapa bacaan yang membahas mengenai ini ada di:

Menjaga Asupan Makanan Sehat

Makanan adalah sumber tenaga untuk tubuh. Selain aktivitas tubuh yang bisa kita lihat dan rasakan–seperti aktivitas fisik–aktivitas organ-organ tubuh juga terjadi sepanjang hari, saat kita sedang tidur sekalipun. Aktivitas organ ini tentu tidak terlihat, namun energi yang mereka butuhkan untuk terus beroperasi tidak main-main jumlahnya. Salah satu aktivitas organ ini, tentunya, adalah aktivitas jantung dalam memompakan darah.

Asupan nutrisi yang baik akan mampu menunjang aktivitas fisik dan aktivitas organ di dalam tubuh. Sebaliknya, asupan nutrisi yang kurang baik justru membahayakan keduanya. Asupan nutrisi yang kurang baik identik dengan istilah ‘kalori kosong’–memiliki angka kalori yang tinggi, namun seluruhnya dapat langsung terendap seketika di dalam tubuh tanpa cukup menutrisi organ tubuh maupun alat gerak tubuh untuk melakukan pekerjaan mereka. Beberapa contoh jenis makanan ini adalah tepung-tepung pabrikan, karbohidrat sederhana, gula buatan, alkohol, minyak goreng, fast food, dan kopi dalam jumlah yang berlebihan.

Seringnya, kalori berlebih dari mereka ini mengendap di tubuh dalam bentuk sel lemak. Selain membuat berat badan melambung dan bentuk tubuh tidak nyaman dipandang, lemak di dalam tubuh juga bisa ‘membungkus’ organ-organ seperti pembuluh arteri, liver, dan organ pencernaan–lemak jenis inilah yang disebut visceral fat.

Bayangkan jika kamu diminta untuk melakukan pekerjaan sehari-harimu dengan menggunakan sepuluh lapis pakaian tebal, plus selimut–kamu jadi harus mengeluarkan usaha lebih untuk sekedar bangkit dari duduk atau mengambil sesuatu dari atas lemari karena ruang gerakmu lebih terbatas dan tubuhmu terasa jauh lebih berat. Jika biasanya kamu bisa berjalan kaki dengan nyaman selama setengah jam, saat mengenakan pakaian yang tebal mungkin kamu sudah merasa kepayahan setelah berjalan kaki selama lima belas menit. Kualitas gerakanmu menjadi menurun, usaha yang diperlukan semakin besar, dan waktu untuk memulihkan diri dari lelahnya kegiatan tersebut semakin panjang.

Seperti itulah kira-kira kondisi organ-organ di dalam tubuhmu jika harus beroperasi di balik balutan visceral fat yang tebal. Karena itu, angka visceral fat yang kecil akan membawa sangat banyak kebaikan untuk organ-organ di dalam tubuh, termasuk pada jantung yang akan lebih leluasa berdenyut–sehingga kualitas setiap denyutnya pun semakin baik. Pengukuran visceral fat yang akurat bisa dilakukan dengan CT scan atau MRI, namun untuk memperoleh gambaran secara garis besar, bisa dilakukan dengan smart scale yang ada di pusat-pusat kebugaran, atau bahkan dibeli di marketplace untuk digunakan di rumah.

Pemilihan makanan dengan nutrisi yang baik akan membantu memperbaiki angka visceral fat, terutama karena makanan-makanan yang berasal dari sumber alami jauh lebih ‘bersahabat’ dalam hal menyuplai energi ke tubuh dan organ-organnya. Karena setiap kalorinya dapat digunakan oleh tubuh, maka semakin kecil kesempatan mereka untuk mengendap dalam bentuk lemak.

Beberapa artikel yang dapat kamu baca untuk mengetahui lebih lanjut tentang ini ada di:

Menjauhi Stress

Rasa panik, khawatir, takut, marah, dan emosi negatif lainnya adalah sebab-sebab meningkatnya irama denyut jantung. Maka, emosi-emosi ini sudah tidak diragukan lagi akan cepat menghabiskan jatah denyut jantung kita. Untuk menyamankan diri dari hal-hal inilah kita perlu melatih terus kemampuan untuk berpikir positif, bersyukur, dan menghargai apa yang terjadi di sini saat ini. Metode latihannya sangat beragam, ada yang cocok dengan melakukan meditasi, ada juga yang lebih cocok dengan metode lainnya seperti menjelajah alam, atau bahkan hal-hal yang lebih sederhana seperti memiliki me-time yang cukup untuk melakukan hobi.

Di luar itu, tubuh yang tidak ternutrisi baik serta memiliki kelebihan lemak juga rentan meningkatkan produksi hormon kortisol–hormon yang dihasilkan oleh tubuh dalam keadaan stress. Ini yang kemudian bisa menyebabkan terjadinya stress pada tubuh. Bahayanya, fenomena serupa juga sangat mungkin terjadi ketika seseorang berolah raga secara berlebihan–baik dari segi intensitas maupun frekuensi. Karena inilah olah raga harus selalu dilakukan dengan kepekaan dan kesadaran penuh atas kapasitas dan kapabilitas diri.

Efek yang dihasilkan oleh tubuh yang stress sama dengan stress yang dihasilkan oleh pikiran dan emosi negatif, yaitu meningkatnya irama denyut jantung, tekanan darah, dan kadar glukosa dalam darah–ini semua disebabkan oleh kerja dari hormon kortisol. Selain itu, hormon ini juga akan menyebabkan ketegangan pada otot sehingga meningkatkan resiko cedera saat berolah raga, dan menciptakan rasa tidak nyaman atau bahkan nyeri pada tubuh–kesemuanya adalah sensasi yang mungkin akan berujung pada meningkatnya irama denyut jantung. Tidak hanya itu, hormon kortisol yang berlebihan juga akan memicu tubuh untuk menimbun lebih banyak visceral fat. Jika terjadi seperti ini, maka siklus stress pun akan terus berulang-ulang, dan bukan tidak mungkin bahkan menjadi efek bola salju.

Beberapa artikel yang dapat dibaca untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang ini ada di:


Begitu vitalnya peran jantung dalam kehidupan manusia, sehingga tidak heran jika para guru yoga ‘memformulasikan’ satu filosofi yang menggambarkan betapa bergantungnya hidup manusia padanya. Tentu, panjangnya usia dan berapa persisnya angka ‘jatah detak jantung’ kita hanya Tuhan yang mengetahui. Tapi seperti halnya tidak bisa dikatakan bijak jika kita menghabiskan gaji satu bulan dalam satu hari, kita pun sebaiknya mengambil pilihan yang lebih cermat dalam menyikapi setiap denyut jantung kita.

Lagipula, pentingnya memperhatikan organ yang satu ini pun juga dijelaskan dalam Islam melalui sebuah hadist:

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

https://rumaysho.com/3028-jika-hati-baik.html

Mudah-mudahan tulisan ini membawa kebaikan bagi hatimu 🙂

Namasté

Dyah Synta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s