Catatan Ramadan

Bulan Ramadan selalu penuh cerita 🙂 Bulan ini tidak ada dalam kalender masehi, tapi begitu berkesan bagi banyak orang–termasuk saya.

Ramadan mengubah banyak hal–mulai dari alokasi waktu dalam rutinitas, sampai alokasi energi dan tenaga. Untuk saya sendiri, beberapa Ramadan terakhir terasa berbeda. Salah satu alasannya, karena sejak memutuskan untuk berhijab, saya merasa bersalah kalau menjalani Ramadan dengan begitu-begitu saja.

Sejak tahun 2017, saya selalu berusaha memperbaiki–paling tidak–satu hal dalam setiap Ramadan. Mulai dari mencoba mempraktekkan one day one juz (ODOJ), mencoba menambahkan ODOJ dengan terjemahannya, melancarkan kembali hafalan surat pendek yang meluntur karena jarang dirapalkan, sampai mencoba merutinkan ibadah solat sunnah satu demi satu. Tidak semuanya selalu berhasil, tapi paling tidak saya mencoba untuk membekali diri dengan kebiasaan baik untuk diteruskan dalam sebelas bulan selanjutnya.

Ramadan memang terasa sebagai saat yang tepat untuk memulai kebiasaan baru untuk saya–mungkin karena di tengah ‘keterpaksaan’ untuk beradaptasi dengan pola hidup yang berbeda saya merasa lebih tidak terbebani untuk ‘merombak ulang’ hidup secara keseluruhan 😀 Apalagi, tahun ini Ramadan muncul di tengah kepanikan global seputar pandemi Covid-19. Mungkin karena itu, rasanya semangat saya untuk mem-fine tune Ramadan kali ini jadi lebih menggelora.

Tapi semangat ini tidak selalu membuahkan cerita manis.

Beberapa hari yang lalu, saya justru merasa luar biasa tersiksa ketika melakukan solat. Setiap kali bangun dari posisi sujud, otot di bagian dalam paha kiri saya terasa menegang dan sakit sekali. Meskipun mengucap ‘Allahu Akbar’ dalam hati, mulut saya refleks mengucap ‘Astaghfirullah’–entah solat saya hari itu sah sepenuhnya atau tidak. Anehnya, rasa nyeri ini tidak muncul ketika saya berjalan, bangkit dari posisi duduk, atau bangun dari posisi berbaring–rasanya nyeri itu tercipta hanya untuk memunculkan wajah meringis saat saya solat. Untungnya, ia tidak bertahan di tubuh saya terlalu lama. Keesokan harinya–setelah hari itu saya memutuskan untuk ‘libur’ dari jadwal workout–rasa nyeri itu sudah lenyap dan saya sudah bisa kembali solat seperti biasa.

Saat pertama kali saya bangun dari sujud tanpa merasakan nyeri tersebut, saya baru menyadari betapa agama saya sangat memperhatikan kesehatan fisik para pemeluknya.

Tapi kepergiannya bukan berarti tidak meninggalkan kesan. Saat pertama kali saya bangun dari sujud tanpa merasakan nyeri tersebut, saya baru menyadari betapa agama saya sangat memperhatikan kesehatan fisik para pemeluknya. Ibadah utama yang wajib untuk dilakukan lima kali dalam sehari, yang merupakan tiang utama agama saya, adalah ibadah yang melibatkan gerakan-gerakan fisik yang jarang sekali dilakukan pada keseharian. Entah keuntungan apa yang dibawa oleh rangkaian gerakan itu untuk Allah SWT, tapi sekarang saya menyadari bahwa mereka jelas membawa kebaikan untuk saya.

Saya pribadi selalu berusaha memberikan makna lebih personal pada solat, terutama sejak suami saya menuturkan kalimat ini saat kami belum berstatus suami-istri:

“Solat itu jangan dianggap kewajiban, tapi coba dijadikan kebutuhan.”

– Pak Fikri

Sebelum ‘perjumpaan’ dengan rasa nyeri itu, kebutuhan untuk menunaikan solat yang saya ciptakan dalam pikiran saya adalah untuk memiliki check point dalam keseharian–semacam kesempatan untuk memberi ‘progress report’ tentang berjalannya beberapa jam di hari itu pada Yang Maha Menguasai. Check point ini sekaligus juga untuk meminta kemudahan untuk kembali pada jalan-Nya yang lurus, dijauhkan dari kesesatan dalam bentuk apapun.

Bedanya, ‘body scanning’ dengan solat ini akan terjadi paling tidak lima kali dalam sehari, setiap hari.

Sekarang, saya merasa menemukan kebutuhan yang baru, yaitu untuk melakukan ‘body scanning’ alias menemukan wawasan tentang kondisi tubuh saya. Betul, sama persis seperti kebutuhan yang terus membuat saya melakukan yoga sampai hari ini 🙂 Bedanya, ‘body scanning’ dengan solat ini akan terjadi paling tidak lima kali dalam sehari, setiap hari. Bayangkan betapa indahnya koneksi yang akan tercipta antara saya dan tubuh saya setiap harinya ❤️

Pentingnya kesehatan fisik dalam Islam pun tahun ini saya temukan dalam ibadah puasa itu sendiri. Jika sudah menyimak cerita saya di InstaStory [link] yang akhirnya membuahkan sesi Instagram Live ini [link], tentu kamu sudah mengetahui bahwa untuk saya, Ramadan sangat identik dengan asam lambung yang melonjak. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya menjalani puasa Ramadan tanpa sensasi panas dalam yang kemudian berujung pada sesak napas dan nyeri saat menelan–yang seluruhnya bersumber dari si asam lambung. Tahun ini, ‘hanya’ dengan mengeliminasi tepung, gula, dan minyak goreng, saya berhasil terbebas dari siksaan tersebut–paling tidak, sampai hari ini.

Ternyata, begitu besarnya peran pemilihan makanan yang sehat untuk menjalani ibadah puasa. Sekali lagi, saya disadarkan bahwa Islam memang sejatinya menyelamatkan–bukan hanya secara spiritual, bukan hanya untuk jiwa, bukan hanya pada akhir zaman, tapi yang juga tidak kalah pentingnya, menyelamatkan tubuh fisik yang menjadikan kita manusia pada hari ini.

Semangat saya untuk terus memperbaiki diri pada Ramadan kali ini memang tidak selalu berbuah manis, tapi ternyata buah yang pahit pun bisa membawa kebaikan yang luar biasa. Mudah-mudahan seluruh wawasan baru ini tidak saya lupakan begitu saja setelah Ramadan ini berlalu. Mudah-mudahan saya juga bisa terus memaknai keislaman dengan lebih baik, dalam segala aspek dan sisi kehidupan–meskipun tidak dalam Bulan Ramadan 🙂

Ada cerita apa dari Ramadanmu tahun ini? 😀

Namasté,

Dyah Synta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s