Dua Minggu yang Terasa Lebih Lama

Sepertinya, salah satu kemampuan saya yang meluntur dengan cepat akhir-akhir ini adalah kemampuan saya berhitung 😆 Saya sudah lupa tanggal dan barusan juga gagal mengingat sudah berapa hari saya menghabiskan waktu #DiRumahAja. Meskipun begitu, saya ingin bercerita tentang dua minggu pertama saya menjalani masa yang unik ini, karena banyak pengalaman yang tidak ingin saya lupakan 😀

Saya mulai ‘merumahkan’ diri sendiri sejak tanggal 15 Maret, dan sejak hari itu, hampir setiap hari saya harus menyesuaikan diri dengan perubahan baru. Mulai dari mendengar berita baru, opini baru, belajar cara-cara baru untuk belanja, mengisi waktu, menyikapi keberadaan suami di rumah, dan banyak lagi. Sejujurnya, beberapa minggu pertama kemarin seluruh energi dan fokus saya hanya cukup untuk melakukan satu hal: beradaptasi–terutama terhadap hal-hal yang terjadi di luar ekspektasi saya sendiri.

Setiap hari, saya mewajibkan diri sendiri meluangkan waktu untuk mengenali kondisi saya hari itu. Berada dalam situasi yang tidak menentu dan penuh perubahan seperti sekarang ini membuat diri saya sangat mudah kehilangan ‘pijakan’–atau istilahnya, jadi lebih sulit being grounded. Akibatnya, saya merasa diri saya menjadi ‘dinamis’ sekali, mudah berubah-ubah. Hari ini saya bisa merasa sangat berenergi, besoknya baru bangun tidur saja sudah kelelahan. Hari lain lagi saya bisa merasa begitu ringan dan ceria melakukan ini dan itu, hari berikutnya saya hanya ingin duduk diam atau rebahan seharian.

Wajar, karena hampir seluruh aspek yang menjadi pijakan atau sumber rasa aman saya mengalami perubahan. Mulai dari arus pendapatan dan pengeluaran, sampai suasana dan situasi di rumah. Belum lagi, pijakan pada ‘rumah’ yang paling utama, yaitu tubuh sendiri. Tubuh saya yang biasanya aktif wara-wiri dan ‘hidup di jalan’ untuk berpindah tempat dari satu tempat mengajar ke tempat mengajar yang lain, sekarang hanya berpindah dari kamar tidur ke ruang TV. Kewaspadaan pada tubuh sendiri pun menjadi berlebihan–setiap saat bertanya-tanya apakah saya sudah terpapar virus, apakah cara saya belanja ke minimarket sudah aman dan benar, apakah barusan napas saya berbunyi ‘ngik ngik’ karena kedinginan atau bukan, apakah saya sudah mencuci tangan dengan efektif, apakah saya berdiri terlalu dekat dengan orang lain, apakah aman jika saya berpelukan dengan suami, dan masih banyak lagi.

Karena sulit untuk menyayangi apa-apa yang belum saya kenal, maka cara yang saya pilih untuk berdamai dengan dinamika diri saya sendiri adalah dengan berusaha mengenalinya satu per satu. Kali ini, mau tidak mau, saya seperti mencoba berkenalan dari nol lagi karena dinamika perubahannya dapat menjadi begitu drastisnya, sampai saya merasa tidak mengenali diri sendiri–satu hal yang paling tidak saya inginkan untuk terjadi.

Berkenalan dengan Napas

Napas adalah satu aspek yang paling mudah berubah ketika seorang manusia merasakan perubahan pada tubuh maupun pikiran.

Sudah bukan konsep yang asing lagi, sepertinya, jika saya menyebutkan bahwa napas adalah cara termudah untuk mengenali fluktuasi energi yang terjadi di dalam tubuh maupun pikiran. Napas adalah satu aspek yang paling mudah berubah ketika seorang manusia merasakan perubahan pada tubuh maupun pikiran. Irama napas yang pendek-pendek dan cepat sering terjadi ketika seseorang merasa lelah, panik, marah, atau tegang. Sebaliknya, pikiran yang tenang dan tubuh yang relaks akan membuat napas seseorang menjadi dalam dan perlahan–berjalan dengan nikmat dan bisa dinikmati.

Setiap hari, saya menyempatkan diri untuk mengenali napas saya sendiri, sekadar untuk mulai mengenali kondisi pikiran, tubuh, dan energi saya hari itu. Caranya, saya menarik napas dalam 5 hitungan, lalu menahan napas dalam 5 hitungan, lalu menghembuskan napas lagi dalam 5 hitungan, dan kembali menahan napas dalam 5 hitungan. Durasi penahanan napas kemudian ditambahkan sedikit-sedikit, kalau bisa sampai mencapai perbandingan 1:2:1:2. Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa 🙂

Di mata orang lain mungkin saya jadi terlihat malas, tapi untuk saya, ini adalah cara terbaik untuk berbuat baik pada diri saya sendiri–belajar mendengarkan, agar diri saya merasa didengar dan terus mau ‘bercerita’.

Jika hari itu saya merasa sangat kesulitan untuk melakukan latihan ini, berarti saya memang sedang tidak merasa tenang, maka saya izinkan dulu diri saya untuk tidak merasa tenang. Selain mencoba mencari tahu apa yang menjadi sumber ketidaktenangan saya (biasanya tidak jauh dari rasa khawatir atau takut), saya juga tidak memaksakan diri untuk menjalani hari dengan perfeksionis atau produktif. Saya tidak memaksakan diri untuk mengisi checklist ini-itu jika saya memang sedang lebih membutuhkan ketenangan. Di mata orang lain mungkin saya jadi terlihat malas, tapi untuk saya, ini adalah cara terbaik untuk berbuat baik pada diri saya sendiri–belajar mendengarkan, agar diri saya merasa didengar dan terus mau ‘bercerita’.

Berkenalan dengan Isi Pikiran

Salah satu yang paling berubah dalam hidup saya beberapa minggu ini adalah bullet journal saya. Biasanya, bujo saya banyak berisi rencana, jadwal, dan janji. Tapi tentunya sekarang-sekarang ini saya nyaris samasekali tidak memiliki janji pertemuan dengan siapa-siapa, maka bujo saya pun ‘berubah’–ia tidak lagi berperan untuk menjaga ketepatan hubungan saya dengan orang lain, tapi menjadi media saya untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri.

Saya lebih banyak menuangkan isi pikiran, mencorat-coret, dan bercerita. Saya menyadari bahwa tubuh yang pergerakannya terbatas mengakibatkan energi di dalam tubuh menjadi tidak tersalurkan dalam gerak fisik–maka biasanya, pikiranlah yang akan menjadi luar biasa aktif. Pikiran yang aktif ini kemudian bisa menjadi pisau bermata dua–bisa menghasilkan ide-ide yang cemerlang, namun bisa juga menciptakan imajinasi yang berlebihan. Di sinilah–untuk saya–peran menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan menjadi bermanfaat.

Menuliskan isi pikiran ibaratnya seperti menciptakan kesempatan pada diri saya untuk memegang kendali atas pikiran saya.

Menuliskan isi pikiran ibaratnya seperti menciptakan kesempatan pada diri saya untuk memegang kendali atas pikiran saya. Tanpa kendali, pikiran saya bisa melesat cepat ke sana dan ke sini. Dulu, menuliskan kebahagiaan yang saya rasakan ketika berjumpa dengan gebetan di sekolah rasanya indah sekali, dan hanya pantas dituliskan dengan kata-kata yang luar biasa puitis. Dua hari kemudian, ketika tulisan itu saya baca kembali, mulai muncul rasa malu karena ‘kok segininya amat ya?’ 😆 Sebulan kemudian, saat menemukan kembali tulisan tersebut, rasanya perasaan itu konyol sekali dan saya hanya bisa menertawakan diri sendiri lebih keras. Kata-kata yang semula dipilih dengan penuh perasaan, di satu waktu bisa terasa begitu indah, namun ketika dilihat dalam situasi yang berbeda dan lebih ‘waras’ bisa terasa sangat berlebihan.

Menuliskan pikiran dan perasaan selalu membantu saya untuk ‘memberi bentuk’ atas mereka, sehingga saya lebih mudah untuk mengenali mereka dan menentukan cara untuk menyikapi mereka.

Untuk saya, begitulah imajinasi, perasaan, dan pikiran saya–ketika diizinkan untuk meluap, akan mudah untuk memegang kendali atas diri saya, menjauhkan dari keberpijakan. Menuliskan pikiran dan perasaan selalu membantu saya untuk ‘memberi bentuk’ atas mereka, sehingga saya lebih mudah untuk mengenali mereka dan menentukan cara untuk menyikapi mereka.

Berkenalan dengan Tubuh

Saya bersyukur karena sebelum masa pandemi ini saya sudah cukup teratur melakukan olah raga. Karena itu, tidak terlalu sulit bagi saya untuk menyesuaikan porsi olah raga saya dari yang semula untuk mencapai target tertentu, menjadi untuk menjaga kebugaran secara umum. Beberapa penyesuaian yang saya lakukan–selain dari lokasi yang tentunya pindah dari gym ke rumah–adalah penyesuaian intensitas dan frekuensi. Saya memilih untuk menambah frekuensi olah raga (dari semula 3-4 kali seminggu menjadi 5-6 kali seminggu), namun menurunkan durasi latihan (dari 60-90 menit menjadi 30-45 menit) dan tingkat kesulitannya (tidak menggunakan beban tambahan–hanya body weight; melakukan latihan asana tingkat basic-intermediate dan menjauh dulu dari yang advanced *diam-diam bersorak dalam hati*).

Sama seperti biasanya, olah raga untuk saya tetap berfungsi sebagai saat untuk melakukan berbagai deteksi kondisi fisik. Yang saya percaya, tubuh selalu memberikan indikasi ketidakseimbangan sebelum suatu penyakit ‘menggempurnya’. Lompatan yang lebih rendah atau laju berlari yang lebih lambat bisa menunjukkan bahwa tubuh sedang dalam kondisi lelah dan rawan terserang flu–maka mungkin akan lebih bijak untuk melakukan olah raga yang lebih lembut, atau malah beristirahat saja sekalian. Otot yang lebih kaku dan pergerakan sendi yang lebih terbatas bisa menunjukkan bahwa tubuh sudah terlalu lama diam sehingga suhunya sudah terlalu dingin–maka sebaiknya melakukan latihan yang lebih aktif dan diikuti dengan peregangan yang efektif.

Selain itu, berolah raga juga penting untuk mengurangi ilusi kelelahan karena pikiran yang sudah terlalu aktif–padahal mungkin tubuh justru belum terpenuhi haknya untuk bergerak.

Saya memutuskan untuk menambah frekuensi berolah raga lebih sering, salah satunya adalah agar bisa lebih intens mendeteksi perubahan-perubahan seperti ini, sehingga–mudah-mudahan–bisa melakukan pencegahan lebih awal atas hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, berolah raga juga penting untuk mengurangi ilusi kelelahan karena pikiran yang sudah terlalu aktif–padahal mungkin tubuh justru belum terpenuhi haknya untuk bergerak. Ini adalah salah satu skenario yang rawan muncul dalam situasi yang membutuhkan daya adaptasi tinggi seperti saat ini.


Selain tiga hal tadi, saya juga ‘memaksa’ diri untuk merutinkan melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya menentukan waktu yang tetap setiap hari untuk memakai skincare dan menonton film–dua hal yang saya rasa sangat menyenangkan. Ini membantu saya untuk tetap merasa ‘waras’ dan tidak mudah diperbudak oleh ketakutan.

Seluruh hal yang saya sebutkan tadi membuat dua minggu pertama saya terasa berjalan lambat sekali. Tapi sekarang, setelah terlewati, alhamdulillah saya sudah merasa lebih nyaman. Mood saya sudah lebih stabil dan saya pun sudah bisa menjadi lebih produktif tanpa merasa memaksakan diri 😀

Butuh kemauan dan keberanian untuk memutus rantai penyebaran apapun yang sedang mewabah–bukan hanya virus, tapi juga wabah ketakutan dan kepanikan. Saya sendiri memutuskan untuk menjaga ketentraman di dalam diri sendiri dulu, sehingga berita atau kabar apapun yang saya dengar atau baca dapat saya sikapi dengan lebih bijaksana. Harapan saya hanya satu, yaitu agar segala ketakutan, kemarahan, dan kepanikan yang tidak perlu tidak saya teruskan, apalagi saya sebarluaskan.

Mudah-mudahan proses adaptasimu kemarin berjalan menyenangkan, dan semakin menyenangkan ke depannya 🙂

Namasté,

Dyah Synta

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s