Takut Mati

Beberapa tahun terakhir ini–sejujurnya, sejak kehilangan jabang bayi yang saya kandung selama 14 minggu–saya sering memikirkan tentang kematian, terutama mencari jawaban atas satu pertanyaan:

‘Mengapa kematian menimbulkan rasa sedih?’

Di saat-saat saya memiliki banyak waktu luang sekaligus merasakan banyak ketakutan di sekeliling saya seperti sekarang, pertanyaan itu kembali muncul. Namun kali ini, bukan tanpa jawaban.


Semua manusia memiliki sesuatu. Mulai dari benda kecil seperti perhiasan, benda tidak penting seperti sendok dan garpu, benda besar seperti kendaraan, benda penting seperti surat tanah, sampai benda-benda hidup seperti peliharaan, teman, sahabat, dan pasangan. Masing-masing benda ini memiliki nilai di hati setiap pemiliknya. Kalau nominal harga menentukan seberapa besar ‘pengaruh’ benda ini terhadap rekening tabungan, nilai di hati menentukan seberapa besar seseorang merasa memiliki benda-benda itu. Rasa memiliki ini yang kemudian sering disebut dengan istilah ‘sayang’ atau ‘cinta’.

Sampai di sini, sebenarnya pasti semua orang sudah paham. Saya sendiri pun merasa paham akan hal ini sampai kemudian saya mulai mempertanyakan.. kematian.

Apakah seharusnya saya mencintai semua hal hanya sebesar rasa cinta saya pada alat-alat tulis saya–supaya saya tidak pernah menderita?

Saya mulai bingung karena menyadari bahwa semakin saya menyayangi atau mencintai sesuatu atau seseorang, semakin saya merasa sedih saat kehilangan mereka. Saya merasa terpuruk, putus asa, bahkan kecewa saat saya harus merelakan kepergian anak saya, karena saya merasa mencintai dia sebegitu besarnya. Padahal, cinta seharusnya adalah sumber kebahagiaan–bukan penderitaan. Mengapa saat saya sekolah dulu, saya tidak merasa seterpuruk itu ketika saya kehilangan penghapus hampir setiap hari? Apakah seharusnya saya mencintai semua hal hanya sebesar rasa cinta saya pada alat-alat tulis saya–supaya saya tidak pernah menderita?

Saya menemukan jawabannya ketika saya mendapatkan penjelasan tentang konsep kemelekatan atau attachment. Ketika itulah, saya menyadari bahwa seringkali saya salah mengartikan rasa cinta dengan rasa kemelekatan–sebuah perasaan ingin memiliki, menguasai sesuatu sepenuh-penuhnya karena merasa sesuatu itu adalah hal yang tidak terpisahkan dari saya, atau bahkan mendefinisikan saya.

Tentu saja, ketika pertama kali dihadapkan dengan istilah dan pengertian ini, saya merasa tidak memiliki perasaan yang berlebihan seperti itu. Tapi seiring berjalannya waktu, ketika pengetahuan itu saya izinkan untuk mengendap, ketika saya semakin suka memperhatikan dinamika kehidupan saya dari waktu ke waktu, saya mulai menemukan satu demi satu bukti betapa saya melekat pada banyak hal. Salah satunya pernah saya ceritakan di post Instagram saya ini:

View this post on Instagram

#ToLoveIsToForgive • Tahun lalu, saya memasuki 2018 dengan sebuah #dharma: memaafkan satu orang, setiap hari, selama satu bulan. Ternyata, sulit. • Setiap manusia memiliki ‘pola’ yang muncul dari setiap kebiasaannya—tidak terkecuali saya. Sayangnya, ternyata salah satu pola yang saya simpan di dalam diri selama puluhan tahun adalah memendam dendam. • Saya pernah dikecewakan—salah satu yang paling menyakitkan, oleh seorang mantan pasangan. Selama bertahun-tahun dalam pernikahan, frekuensi saya bangun di pagi hari dengan wajah manyun sudah tidak terhitung—semua karena saya bermimpi tentang ketidaksetiaan dan pengkhianatan, sebegitu takutnya hal itu akan berulang. Suatu hari, saya menyadari bahwa yang selama ini menghantui dan membuat saya takut setengah mati bukanlah apa yang pernah terjadi—tapi dendam yang saya simpan sendiri. • Saya ingat tujuan pertama saya menjalani dharma tadi, yaitu untuk belajar mencintai dengan lebih baik. Karena tidak pernah ada cinta tanpa maaf—jika saya tidak bisa memaafkan, maka sejatinya, saya belum mencintai. Dan itulah yang terjadi. Saya merasa sebegitu takut, sebegitu dendamnya, karena mungkin tidak ada cinta di situ. Yang ada hanya rasa egois yang melekat pada harga diri saya, dan citra pasangan idaman yang saya lekatkan pada mantan pasangan saya. Hanya kemelekatan, hanya attachment. • Dari situ lalu saya benar-benar belajar untuk menerima bahwa manusia memang jauh dari kesempurnaan. Tidak ada seorang pun yang harus memenuhi kriteria kesempurnaan saya, karena Tuhan pun tidak menciptakan manusia untuk menjadi sempurna bagi siapapun. Manusia tercipta penuh kesalahan, sehingga rasa cinta yang terbesar hanya pantas ditujukan kepada-Nya. Cinta terbaik untuk sesama manusia adalah memaafkan terus-menerus, dan memaklumi kekurangan terus-menerus. • Sekarang, saya tidak pernah lagi bermimpi tentang selingkuh-selingkuhan. Mudah-mudahan ini artinya saya sudah lebih bisa mencintai dan memaafkan. • Forgive everyone, love everyone. Not for them, but for you 🙏 #JottedBySynta #LovingLifeThroughYoga

A post shared by Synta 🕯#LovingLifeThroughYoga (@dyahsynta) on

Saya merasa gagal, bahkan saat itu saya ingat betul saya sempat memaki diri sendiri: ‘Hamil aja nggak becus loe, Syn!’

Meskipun berat, saya pun mulai mengakui bahwa penyebab saya merasa begitu terpuruk setelah kehilangan anak saya adalah karena saya melekatkan satu syarat saya untuk berbahagia pada dia. Saya akan bahagia jika dia sehat, tumbuh seperti anak-anak lain yang ada di sekitar saya, karena itu akan mendefinisikan saya sebagai seorang wanita yang baik, seorang ibu yang berhasil. Ketika saya bahkan tidak diizinkan untuk bertemu dengannya dalam kondisi bernyawa, saya merasa putus asa–mungkin bukan karena kehilangan dia, tapi karena kehilangan keyakinan bahwa saya adalah wanita yang baik dan ibu yang berhasil. Saya merasa gagal, bahkan saat itu saya ingat betul saya sempat memaki diri sendiri: ‘Hamil aja nggak becus loe, Syn!’

Saat itulah saya menyadari bahwa yang membuat ‘kehilangan’ terasa begitu menyakitkan bukanlah rasa cinta, namun kemelekatan.

Lalu saya teringat pada kisah ketika Abu Bakar ra. menangis hebat saat Rasulullah SAW menyampaikan bahwa hari itu agama Islam telah sempurna. Semua orang mempertanyakan kesedihan Abu Bakar ra., dan ketika itu beliau menyampaikan bahwa ketika tugas Rasulullah SAW telah selesai, berarti sudah dekat waktunya mereka untuk berpisah dengannya. Dan benar saja, hal itu diiyakan oleh Rasulullah SAW.

Saya selalu percaya bahwa setiap manusia memiliki dua alasan untuk berada di dunia, yaitu untuk belajar dan untuk mengajarkan sesuatu–baik secara langsung maupun tidak langsung. Tugas yang diemban Rasulullah SAW mungkin sudah jelas terlihat oleh kita saat ini, yaitu untuk mengajarkan tentang Islam. Namun orang yang suatu hari menyakiti hati saya melalui kata-kata dan sikapnya mungkin juga sudah ditakdirkan untuk ‘mengajari’ saya cara berucap dan bersikap–hanya saja, ‘tugas’ ini tidak selalu jelas terlihat.

Lalu mengapa konsep kematian terkesan begitu menakutkan dan menyedihkan?

Dengan analogi seperti ini, bukankah kematian adalah peristiwa yang memerdekakan? Tuhan yang menentukan tugas belajar dan mengajar kita, Tuhan pula yang menentukan kapan kita tutup usia. Bukankah berarti kematian itu mirip dengan kelulusan? Lalu mengapa konsep kematian terkesan begitu menakutkan dan menyedihkan?

Saya sempat berpikiran bahwa jawaban dari ini semua adalah karena selama ini kita semua menjadi korban dari konsep ‘panjang umur = bahagia’ yang digembar-gemborkan secara berlebihan oleh industri kesehatan dan kebugaran 😆 Tapi–meskipun masih tidak meyakini bahwa hal tersebut tidak benar–saya juga mulai membuka pikiran saya pada sebuah kemungkinan bahwa saya, ternyata, memiliki kemelekatan yang besar juga pada nyawa saya di dunia.

Mungkin selama ini saya menganggap bahwa tanpa tubuh ini, tanpa napas ini, tanpa denyut jantung ini, saya bukanlah saya. Dengan kata lain, saya mendefinisikan diri saya sebagai saya yang bernyawa. Padahal–baik menurut yoga maupun agama yang saya anut–ini tidak benar. Buktinya, setelah tubuh fisik ini mati, masih ada kehidupan lain yang akan saya jalani di alam lain, dalam bentuk yang lain. Ini adalah janji Allah SWT.

Kenyataannya, apapun itu yang kita rasa kita miliki sebenarnya hanya menambah kemelekatan antara kita dengan dunia ini, menambah rasa ingin menguasai hidup sepenuh-penuhnya.

Terlepas dari strategi pemasaran siapapun, saya rasa memang setiap manusia–paling tidak, pernah–memiliki kemelekatan pada nyawanya sendiri. Karena itulah–paling tidak, pernah–terasa berat sekali untuk melepaskan segala sesuatu yang sudah terlanjur kita anggap sebagai ‘milik kita’–nyawa kita, jabatan kita, harta benda kita, prestasi kita, nama baik kita, harga diri kita, dan banyak lagi–untuk kemudian memasuki tahap kehidupan di alam yang lain, sebagai jiwa yang sebenar-benarnya dari diri kita. Kenyataannya, apapun itu yang kita rasa kita miliki sebenarnya hanya menambah kemelekatan antara kita dengan dunia ini, menambah rasa ingin menguasai hidup sepenuh-penuhnya.

Tentu tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajak semua orang diam berpasrah saja menunggu kematian 😀 Tapi di dalam situasi yang penuh ketakutan seperti saat ini, sepertinya akan sangat melegakan jika kita semua memiliki persepsi yang lebih sehat atas hidup dan mati kita masing-masing.

Jika di masa-masa ini ada yang kehilangan orang terkasih, mudah-mudahan tulisan ini akan membantumu untuk menyadari bahwa dia, sejatinya, sudah dimerdekakan dari tugas belajar dan mengajarnya di dunia. Tinggal tugas kita yang mengenalnya untuk meneruskan kebaikan yang pernah dia ajarkan. Ini yang saya coba terus lakukan setelah menyadari pelajaran berharga yang diajarkan oleh anak saya 🙂

Di sisi lain, jika di masa ini saya, atau Anda yang ‘dimerdekakan’, maka berbesar hatilah karena kita sudah menyelesaikan kurikulum kita di dunia.

Sementara itu, selama kita semua masih bernyawa, semoga kita terus diberi kemampuan dan kemauan untuk belajar dan mengajar dengan sebaik-baiknya 🙂

 

Mudah-mudahan tulisan ini membawa kebaikan.

Namasté,

Dyah Synta

4 Comments

  1. Belakangan baca2 narasi seputar agama memang seriiing banget diingetin, kalau apa sih sebenarnya yang kita punya? mungkin yang kita punya cuma sekadar dosa atau pahala. Sisanya? cuma titipan. Maka terusannya adalah jangan ragu mengeluarkan zakat, karena harta kita cuma titipan. Ikhlas dengan semua kehilangan, karena -lagi2- semua cuma titipan yang bisa diambil oleh Sang Pemilik yang sebenarnya. Btw, tulisanmu itu selalu bagus2. Makasih ya syn 🙂

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih buat apresiasinya Piqe 🤗 Kalimat ‘semuanya cuma titipan’ itu memang udah khatam banget kita denger dari dulu ya. Saking seringnya, mungkin jadi luntur maknanya. Harapannya sih tulisanku ini bisa membantu mengingatkan atau memberi pemahaman yang lebih mudah 😁 Oiya makasih juga udah ngingetin buat ZAKAT! ❤️

      Like

  2. yang paling dekat adalah kematian mb, memang tidak bisa dipungkiri hal itu datang kapan saja. namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita ketika menghadapi itu. Semoga digantikan yang lebih baik mb, barangkali ada hikmah atas kesedihanmu mb. Bisa jadi penolong ketika di akhirat kelak jika mb sabar. Tetap semangat ya mb ^^. Kembali hari ini saya diingatkan lagi tentang kematian.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih untuk doanya ❤️ Pengingat tentang singkatnya hidup di dunia memang ada di mana-mana ya Mba, mudah-mudahan memberi kita keringanan hati untuk senantiasa mengisi usia dengan hal-hal yang berguna 🤗

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s