Cerita yang Lama Tersimpan

Salah satu koleksi momen yang berkesan selama saya hidup di dunia ini adalah momen-momen yang terangkum dalam sebuah ‘folder‘ berjudul Ketika Saya Sadar Saya Salah. Isi dari momen-momen yang terkompilasi di dalamnya ada banyak sekali, tapi salah satu yang menjadi favorit saya adalah sebuah momen di mana saya tergerak untuk berhijab.

Kejadian kasat mata yang terjadi di hari itu sebenarnya sudah pernah saya ceritakan dalam sebuah post di Instagram dan sebuah blogpost [link]. Tapi cerita yang selalu saya tahan di ujung lidah setiap kali hendak saya ungkapkan sebenarnya terjadi tanpa terlihat, di dalam kepala saya sendiri. Waktu itu, percakapan demi percakapan saya lakukan dengan diri saya sendiri, yang ternyata pada akhirnya hanya menghasilkan satu kesimpulan:

Saya tidak tahu apa-apa.

View this post on Instagram

Karena baru lewat setahun, jadi masih inget banget. Tanggal ini, jam seginian, tahun lalu, saya lg duduk di mobil. Udah sampe di tempat tujuan, udah pake jilbab dari rumah. Saya mikir lamaaa banget buat turun. Akhirnya beberapa detik sebelum turun, saya memutuskan untuk membuka lagi hijab yang saya pake. Saya nggak pede. Jadi lah pagi itu jok mobil saya aja yang pake jilbab ๐Ÿ’” Sampe di rumah, saya cerita ke @fikrihadiansyah sambil cengengesan nutupin malu. Saya bilang sesuatu semacam, 'Maaf ya, ternyata aku masih se-culun itu. Belom berani.' Fikri sih ketawa dan menghibur, nggak menunjukkan kekecewaan samasekali. Tapi malah saya yang nggak berhenti ngerasa kecewa sama diri sendiri. Untungnya, dalam waktu 9 jam terjadi keajaiban. Ketika harus berangkat untuk observe kelasnya @imarahma bareng @metavashti sore harinya, saya keluar dari pintu rumah dengan hijab (lagi). Selesai observe kelas, tiba-tiba Fikri ngajak makan bareng sama @rizkisatria85, @alief.olaf, @ariakusumah, dan @tody.toddler ๐Ÿ˜ฑ Kembalilah saya deg-degan dan nggak pede lagi karena takut diceng-cengin atau diketawain ๐Ÿ™ˆ (barbuk muka grogi saya bisa dilihat di ๐Ÿ‘‰) Tapi alhamdulillah, malam itu, untuk pertama kalinya, saya akhirnya berhasil tidak melepas hijab yang saya pakai sampai saya dan Fikri kembali lagi ke rumah ๐ŸŽ‰ Biarpun waktu pulang, jilbab saya udah pletat-pletot gak karuan karena ternyata makenya masih ngaco ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Saya inget banget, waktu saya ngeluh nggak bisa pake jilbab yang bener, Fikri bilang, 'Nanti kita cari sama-sama ya cara pakenya biar bener.' ๐Ÿ’ž Terima kasih ya temen-temen, udah ikut mewarnai hari pertama saya berhijab ๐Ÿ’— Makasih juga udah mendukung dan nggak ngata-ngatain penampilan saya ๐Ÿ™ˆ dan tentunya terima kasih paling besar buat suami tercinta yang amat sangat super suportif sama istrinya yang suka mendadak punya sejuta ide 'brilian' ini. Aand happy 1st anniversary to #meandmyhijab โค let's improve each other to be better, forever ๐Ÿ˜˜ #hijab #hijabi

A post shared by Synta ๐Ÿ•ฏ#LovingLifeThroughYoga (@dyahsynta) on

Post Instagram yang menceritakan kejadian di hari pertama saya berhijab, saya tulis untuk merayakan tahun pertama yang saya lewati dengan penampilan baru ๐Ÿ™‚

Di tahun 2017 itu, sebenarnya hidup saya sedang terasa membaik setelah sekian lama terasa sekali pasang-surutnya. Dari segi pekerjaan dan karya, ketika itu saya sedang sangat menikmati menjalani sebuah usaha sambil menikmati jatuh cinta dengan profesi sebagai pengajar yoga–setelah sebelumnya saya menjadi ibu-ibu yang sehari-hari hanya mengurusi pekerjaan rumah saja. Dari segi ilmu, saya sedang merasa sangat hidup karena banyak berkenalan dengan berbagai filosofi di balik yoga dan olah raga. Dari segi keluarga dan pribadi, saya sedang merasa pulih dan membaik setelah melalui kegagalan kehamilan saya dua tahun sebelumnya (ya, saya butuh waktu lama untuk bisa kembali merasa baik-baik saja setelah mengalami itu).

Tapi sebuah percakapan dengan seorang teman tiba-tiba membuat saya mempertanyakan seluruh perasaan ‘membaik’ tersebut.

Teman yang saya kenal sejak kuliah itu memang saat itu sudah berhijab selama beberapa tahun. Saya lupa bagaimana persisnya, tapi di tengah pembicaraan kami, saya tiba-tiba menceritakan bahwa beberapa bulan sebelumnya saya sempat meminta izin pada suami untuk mulai berhijab, meski keinginan itu sudah hilang ketika saya menceritakannya.

Sama seperti kebanyakan orang, di kesempatan itu saya tidak mengharapkan respon atau tanggapan tertentu. Saya hanya ingin bercerita, selayaknya obrolan santai dua teman lama. Teman saya ini pun mendengarkan dengan baik–tanpa kemudian menghakimi atau menyalahkan saya. Tapi satu kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut saya, tidak bisa begitu saja saya lupakan, bahkan terus terngiang-ngiang sampai berminggu-minggu sesudahnya.

“Iya nih, sekarang sih gue udah nggak pernah kepikiran buat pake jilbab lagi, soalnya repot kalo ngajar yoga–nanti murid-murid gue susah ngeliat detail contoh gerakannya.”

Kalimat itu terus terulang di dalam kepala saya. Di satu sisi, saya menyesal karena menjadikan pekerjaan saya sebagai kambing hitam yang menjauhkan saya dari kewajiban saya sebagai seorang muslimah. Di sisi lain, saya sangat takut jika kalimat yang terlontar spontan itu ternyata memang menyuarakan kebenaran yang saya sadari, namun enggan untuk saya akui.

Selama berminggu-minggu, saya bahkan takut untuk berdoa meminta petunjuk dari-Nya. Alasannya satu, karena saya takut saya akan ditunjukkan ke arah yang menjauhkan saya dari mengajar yoga–pekerjaan baru yang sangat membuat saya merasa hidup.


Di tengah masa bingung itu, saya mendapatkan ilham untuk membuat blogpost ini [link]. Cerita yang menggambarkan kegalauan, bahkan terlihat jelas dari judulnya. Pada masa-masa itu, saya memang sedang sangat kagum pada prinsip ahimsa yang sejatinya menjadi the baring back bone atas filosofi-filosofi yoga lainnya–bahwa dalam melakukan apapun, siapapun tidak boleh menyakiti apapun. Ketika berolah raga, tidak boleh menyakiti diri sendiri dengan intensitas dan frekuensi yang berlebihan. Ketika makan, tidak boleh menyakiti pencernaan dengan mengonsumsi zat-zat yang membahayakan dalam jumlah berlebihan. Ketika beristirahat, tidak boleh menyakiti perasaan pasangan yang juga membutuhkan ruang di atas kasur. Ketika marah atau sedih, tidak boleh diungkapkan melalui kata-kata dan penyampaian yang menyakiti perasaan orang lain. Prinsip sederhana yang–menurut saya–bisa membuat dunia menjadi jauh lebih baik.

Yang kemudian terjadi tidak lama setelah blogpost itu saya publish, adalah sebuah ‘pencerahan’–sebuah perjumpaan tidak disengaja dengan sebuah kalimat yang tidak pernah asing bagi saya:

ุจูุณู’ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู€ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ู

“Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.”

Mungkin ketika itulah tangan Tuhan bekerja. Padahal, di dalam hati saya sedang terjadi pergulatan karena kebebalan saya dalam menuruti kewajiban dari-Nya. Pergulatan yang begitu memberatkan hati, bahkan hingga saat ini pun saya tidak pernah menemukan jawaban mengapa Dia begitu jelas memberikan jawaban yang saya cari. Tuhan seolah menekan sebuah tombol On untuk membuat saya menyadari sesuatu yang selalu luput dari perhatian saya.

Kalimat basmallah–yang seumur hidup sudah saya dengar dan lafalkan berkali-kali–hari itu tiba-tiba menampar saya melalui terjemahannya.

Sejatinya, ucapan basmallah ini adalah pengingat dan pelurus niat bagi umat Muslim, kapanpun dan di manapun. Ucapan inilah yang mendahului setiap kegiatan yang akan dilakukan–mulai dari saat membuka mata menyambut hari, mencuci muka, membersihkan tubuh, makan, dan seterusnya sampai kembali tidur lagi. Ucapan inilah yang seharusnya mengingatkan setiap Muslim untuk melakukan kegiatan apapun semata-mata untuk mencari ridho dari Yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Ucapan itulah yang seharusnya mengingatkan untuk melakukan segala kegiatan dengan penuh kasih, dengan penuh sayang.

Ucapan itulah yang seharusnya menanamkan prinsip ahimsa di dalam diri saya, bahkan sejak jauh sebelum saya mengenal yoga.


Pada beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat itu, sedikit demi sedikit pergulatan batin saya terasa mereda. Saya kehabisan alasan untuk menghindari memenuhi kewajiban saya sebagai seorang Muslimah. Sedikit demi sedikit, saya mulai menyadari bahwa segala hal baik yang saya pelajari dalam yoga, sebetulnya sudah terangkum semuanya dalam Islam, jika saya mau membuka mata dan hati saya. Ketika itulah–mungkin untuk pertama kalinya seumur hidup–saya benar-benar meyakini Islam sebagai penuntun hidup yang membawa pada keselamatan.

Hanya beberapa hari setelah detik yang berjalan lambat itu, saya mulai berhijab–yang meskipun sudah benar-benar saya yakini, tetap terasa berat saat benar-benar akan saya lakukan. Untuk saya, perubahan ini bukan hanya menunjukkan perubahan penampilan. Setiap kali saya melihat jilbab yang saya kenakan, saya merasa kembali diingatkan pada ucapan basmallah, pada ahimsa, pada Islam, dan pada yoga yang ‘mengantarkan’ saya kembali pada keislaman.

Merayakan tahun kedua berhijab melalui post Instagram ini ๐Ÿ™‚

Saya paham bahwa proses yang saya alami mungkin terdengar tidak masuk akal untuk beberapa orang. Yoga yang bagi beberapa orang bertentangan dengan Islam, justru membuat saya lebih mudah memahami ajaran Islam.

Saya samasekali tidak berniat menyalahkan atau membuktikan apapun melalui cerita ini. Jika ada satu hal yang ingin saya sampaikan untuk menyimpulkan, itu hanyalah bahwa setiap manusia memiliki jalannya sendiri-sendiri. Bahwa ‘bahasa’ yang begitu mudah dipahami oleh satu orang, belum tentu familiar saat didengar oleh orang yang lain. Tapi dalam bahasa apapun itu, kebaikan akan selalu bermuara pada kebaikan.

Pengalaman saya ini mengajarkan saya untuk menghargai proses dan perjalanan yang dilalui oleh siapapun untuk menemukan kebenaran mereka masing-masing. Bahwa sebelum saya menuding seseorang berjalan menuju kesesatan, saya harus ingat bahwa saya pun juga tersesat begitu jauh sebelum Allah SWT menekan tombol On itu. Bahkan, jelas-jelas, hingga saat ini pun masih sangat banyak PR saya sebagai seorang Muslimah untuk menjaga diri saya jauh dari kesesatan. Masih banyak yang harus saya perbaiki, masih banyak yang harus saya pelajari dan pahami.

Sebelum akhirnya berani untuk menuliskan di sini, saya hanya pernah menceritakan ini pada seorang senior yang saya hormati. Ketika itu, saya sudah siap untuk diceramahi atau malah dimaki-maki–sama seperti saat ini. Tapi kalimat yang diucapkan oleh senior saya di hadapan saya saat itu, justru sangat menenangkan dan membesarkan hati:

“Syn, Allah SWT menjelaskan bahwa ada 25 Rasul yang menyebarkan ajaran agama Islam. Tapi selain itu, masih ada Nabi yang jumlahnya ribuan dan kita nggak tau mereka diturunkan di mana aja. Bisa aja salah satu orang yang menciptakan atau menyebarkan yoga itu adalah Nabi-Nabi itu. Siapa yang tau, kan?”

Ya, karena hanya Allah SWT lah yang Maha Mengetahui, kan? ๐Ÿ™‚

Mudah-mudahan cerita saya ini membawa kebaikan dan manfaat saat kita hanya tinggal menghitung hari menuju hari kemenangan. Mudah-mudahan cerita ini juga menambah makna kalimat basmallah dalam do’a dan solat kita semua.

Namastรฉ & Wassalaammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ๐Ÿ™‚

Dyah Synta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s