Budaya Rasa

Saya setuju dengan pernyataan yang banyak terlontar, bagaimana saat ini akses menuju berbagai ilmu ada di mana-mana–berkat teknologi. Bahkan bisa dibilang, kini siapapun bisa menjadi apapun yang mereka inginkan–kapanpun, di manapun yang mereka mau. Kalau mau ekstrim, hari ini mendalami satu hal, lalu dua hari lagi membanting setir ke arah yang berlawanan pun sangat memungkinkan.

Hal yang sama juga berlaku dalam hal mengadopsi gaya hidup. Terlepas dari masalah finansial, ada beragam jenis tutorial untuk menerapkan beragam jenis gaya hidup yang tersebar di jagad dunia maya. Tutorial-tutorial ini bahkan terus bertambah jumlahnya di setiap jam. Tentunya, salah satu gaya hidup yang mendapat sorotan dan mengundang banyak ketertarikan adalah gaya hidup sehat.

Berkat teknologi juga, ada banyak pilihan cara untuk memulai penerapan gaya hidup sehat dengan bantuan ponsel pintar. Ada berbagai apps yang hadir dengan membawa berbagai jenis fitur. Mulai dari reminder yang bisa disinkronisasi dengan kalender bawaan ponsel, penghitungan kalori yang terbakar, informasi mengenai kualitas dan kuantitas tidur, sampai penghitungan kalori dari berbagai makanan yang dikonsumsi, dan masih banyak lagi. Sebagai salah satu orang yang banyak dimudahkan oleh teknologi karena mulai mencoba bergaya hidup sehat di era milenial, saya pun beranggapan bahwa bergaya hidup sehat itu mudah sekali dilakukan oleh siapa saja saat ini.

Tapi bagai pisau bermata dua, peran teknologi ini pula yang menyebabkan banyak manusia yang memiliki kecenderungan serupa: memprioritaskan angka di atas rasa.


Saya tidak tahu banyak mengenai asal-muasal diciptakannya angka. Yang saya tahu, angka-angka ini telah banyak sekali membantu saya menerjemahkan banyak hal–mulai dari seberapa berharganya suatu benda, durasi waktu yang saya habiskan saat melakukan sesuatu, apa yang membedakan suatu beban dari beban yang lain saat diangkut, dan masih banyak lagi. Angka telah membantu saya memahami banyak hal dalam hidup–termasuk dalam memahami rasa.

Tahukah kamu bahwa sebagian orang bahkan tidak mengetahui cukup kosakata untuk bisa mengartikan perasaan mereka sendiri?

Tapi mungkin karena begitu mudahnya memahami angka dan begitu kompleksnya sebuah rasa, kadang saya hanya berusaha memahami angka tanpa merasa perlu untuk memahami rasa yang diterjemahkan olehnya. Seringkali saya berhenti, memulai, atau mengambil jeda ketika suatu angka sudah muncul, bukan ketika diri saya ‘berkata’ bahwa itulah saatnya. Padahal, jika diibaratkan, angka adalah interface, sementara rasa adalah seluruh deretan bahasa program yang ada di baliknya–yang membuat interface tersebut memiliki makna.

Berapa kali saya merasa belum cukup jauh berlari saat GPS tracker yang saya kenakan belum menunjukkan angka yang saya inginkan–padahal saat itu saya merasa sudah terlalu lelah untuk berlari?

Berapa banyak usaha yang saya lakukan untuk terus berolah raga dan menjaga asupan makanan demi mencapai satu angka tertentu di timbangan–bukannya demi merasa nyaman menghuni tubuh saya sendiri?

Berapa kali saya mencantumkan sebuah angka sebagai sebuah target dalam pekerjaan, pertemanan, bahkan percintaan–bukannya menekankan pada rasa puas dan bahagia sebagai pencarian yang utama?

Kamu mungkin lebih beruntung daripada saya dan belum pernah berada dalam kondisi-kondisi tersebut. Tapi keseluruhan pengalaman saya itu sempat membuat saya bertanya pada diri saya:

Apakah saya ingin menjalani gaya hidup yang memenuhi target, atau saya ingin menjalani gaya hidup yang sehat?

Karena semakin hari, saya semakin menyadari bahwa sehat bukan semata-mata tentang angka yang mendefinisikan tubuh–bukan tentang lingkar pinggang, berat badan, atau jumlah kalori. Sehat seutuhnya adalah tentang rasa–tentang bergerak dengan bahagia tanpa napas yang berat, tentang nyaman beraktivitas tanpa terkungkung oleh virus penyakit, tentang bahagia saat bangun di pagi hari tanpa merasa membutuhkan istirahat yang lebih.

Bahkan lebih dari itu semua, sehat yang utama adalah tentang memahami setiap sensasi yang dimunculkan oleh tubuh.. dalam bentuk rasa.


Sejauh ini, saya masih harus banyak belajar untuk memahami rasa lebih baik daripada saya memahami angka. Namun beberapa hal ini harus diakui sangat membantu untuk terus mengingatkan saya akan apa yang seharusnya lebih menjadi perhatian saya:

Memiliki Jurnal

Menuliskan bagaimana hari saya berjalan sangat membantu dalam meningkatkan kepekaan saya akan rasa. Perlu saya akui bahwa pada awalnya isi jurnal saya hanya catatan kasar mengenai aktivitas apa saja yang saya lakukan, sampai lama kelamaan saya merasa nyaman untuk menuangkan ide-ide dan isi pikiran saya ke dalamnya. Lalu akhirnya, kini saya menyadari bahwa jurnal saya adalah tempat yang aman bagi saya untuk menyampaikan seluruh isi hati saya.

Tentu saya tidak sedang membicarakan bullet journal saya yang nyaris seluruh isinya terpampang di Instagram. Saya membicarakan satu buku lain yang memang saya khususkan untuk menjadi ‘rekan’ saya sehari-hari. Bagaimana bentuk buku ini dan apakah merknya Sinar Dunia ataukah Moleskine–hanya saya yang tahu jawabannya 😉

Berhenti Membanding-Bandingkan Diri dengan Orang Lain

Satu hal yang saya percaya adalah Tuhan tidak pernah menciptakan satu individu lebih baik daripada individu-Nya yang lain. Karena sebagai makhluk-Nya, kita semua tercipta sama, sederajat, dan hanya satu yang perlu kita akui sebagai Yang Maha Agung. Saya yakin bahwa Tuhan tidak menginginkan adanya kesombongan di hati makhluk-Nya, karena itulah Tuhan membekali kita semua dengan rasa–bukan dengan angka.

Harus saya akui, setiap kali muncul tendensi untuk membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, saya pasti mulai menilik ‘angka’ yang dimilikinya: berapa harga benda-benda yang digunakannya, berapa nilai akhirnya saat menamatkan kuliah, berapa usianya, berapa banyak hartanya, dan berapa berapa yang lainnya. Padahal jika yang saya lakukan adalah menanyakan langsung kepadanya: ‘Bagaimana perasaanmu saat ini?’ mungkin jawabannya akan membuat saya merasa tidak peduli lagi pada berbagai angka yang dia miliki.

Berhenti Berusaha Menjadi yang Terbaik

..namun selalu mengeluarkan usaha yang terbaik.

‘Menjadi yang terbaik’ adalah tentang menjuarai peringkat, menjadi yang nomor satu–lagi-lagi tentang angka. Sementara mengeluarkan usaha yang terbaik adalah tentang kepuasan, ketenangan batin, kebahagiaan karena telah mengoptimalkan kemampuan dan kemauan–seputar rasa di dalam hati.

Saya juga terus merasa perlu menyadari bahwa predikat ‘terbaik’ itu sendiri hanyalah sebuah prestasi yang semu. Karena lagi-lagi, kita semua tercipta sederajat, untuk saling melengkapi dan mengasihi–bukan untuk saling mengungguli 🙂


Angka memiliki kebaikannya sendiri, karena itulah hingga kini ia masih menjadi media informasi yang paling massal dipahami. Namun seluruh kebaikan itu tentu tidak perlu serta merta mengambil alih tugas dari rasa–tools yang dikaruniakan kepada saya langsung oleh Sang Pencipta. Saat kini begitu banyak aspek kehidupan yang berbasis digital, tentu saya memegang kendali untuk menjauhkan hidup saya dari menjadi digit-all.

Akan sangat menyenangkan jika bisa leluasa memilih untuk mengedepankan rasa, dan merasa merdeka untuk sesekali mencampakkan angka-angka.

Namasté 🙂

Dyah Synta

6 Comments

Leave a Reply to faizmsj Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s