Antara Kagum dan Tanggung Jawab

Dari sekian banyak hal yang patut saya syukuri dalam hidup saya, salah satu yang paling sering membuat saya terdiam adalah kenyataan bahwa saya terus-menerus diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang hebat. Mulai dari teman-teman sekolah yang luar biasa cerdas, teman-teman kuliah yang luar biasa nyeni, teman-teman yang jenius dalam bermusik, teman-teman yang memiliki jiwa kepemimpinan besar, teman-teman yang langganan podium di lomba lari jarak jauh, teman-teman yang sukses membangun bisnisnya, dan masih banyak lagi.

Selain membuat saya berdecak kagum setiap hari, berada di antara orang-orang yang begitu hebat tentu membuat saya sering merasa kecil dan tidak berarti. Kalau dihitung, dalam satu hari, mungkin frekuensi saya membatin “Da aku mah apa atuh?” Bisa menandingi frekuensi saya mengatakan “I love you,” ke suami saya. Ini terjadi karena hampir setiap hari selalu ada saja pencapaian baru yang diraih oleh orang-orang di sekitar saya.

Tapi kondisi ini pada dasarnya membuat saya sangat bersyukur. Di balik perasaan saya yang sering ‘tersenggol’ untuk menjadi minder, saya merasa bersyukur karena saya sangat mudah menemukan inspirasi dan motivasi dari orang-orang di sekeliling saya. Saya bisa dengan gampang menemukan tempat bertanya ketika saya menemukan kesulitan–baik dalam hal olah raga, mengajar yoga, menjalankan LANA, sampai ke bersih-bersih rumah.

Saking mudahnya saya menemukan tempat untuk bertanya, saya jadi sering sekali menghubungi mereka–biasanya via WhatsApp. Menurut saya, hal-hal tertentu lebih enak ditanyakan ke orang lain daripada ke search engine. Biasanya, setelah mendapatkan jawaban dari suatu topik, saya akan merasa semakin penasaran akan topik tersebut. Tapi beberapa hari yang lalu, ketika saya menanyakan tips untuk rutin berlatih lari di sela-sela kesibukan kepada Mbak Elisa–salah seorang senior di G10Runners–pikiran saya tiba-tiba mencetuskan satu pertanyaan yang tidak relevan dengan topik pertanyaan saya:

“Kira-kira, sudah berapa jam ya waktu yang Mbak Elisa habiskan untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan seperti ini?”

Mbak Elisa dalam race-nya yang terakhir, Pariaman Triathlon 2016

Mbak Elisa memang sosok yang hebat di mata saya dan teman-teman G10Runners. Kesibukannya bekerja kantoran dan mengurus keluarga tidak pernah menjadi alasan yang cukup kuat baginya untuk mengesampingkan latihan–terutama lari. Hasilnya, dalam waktu beberapa tahun, Mbak Elisa sudah beberapa kali menamatkan Full Marathon dan berdiri di atas podium dalam beberapa race lari maupun triathlon.

Kemajuan yang pesat dalam lari dan triathlon membuat Mbak Elisa menjadi sosok yang saya kagumi. Karena itulah, sejak mulai menjalani latihan untuk menghadapi Full Marathon pertama, saya sudah sering ‘berkonsultasi’ pada Mbak Elisa. Selain tips latihan yang manjur, motivasi-motivasi darinya selalu menenangkan dan tepat sasaran. Dan karena Mbak Elisa memiliki banyak teman seperlarian, saya yakin bukan hanya saya yang menjadikannya tempat bertanya dan berkeluh kesah tentang lari.

Dari kiri ke kanan: Mbak Lovy, Mbak Elisa, Dila, saya, dan Rangsat. Terakhir kali bertemu Mbak Elisa di Car Free Day, Jln. Jend. Sudirman

Sejak lama sekali, saya selalu bercita-cita menjadi seseorang yang hebat. Tidak perlu hebat dalam segala hal, tapi cukup dalam beberapa hal yang memang saya senangi. Karena itulah saya tidak pernah mau berhenti belajar dan berlatih. Tapi ternyata, ada satu hal yang lupa untuk saya ingatkan pada diri saya, yaitu bagaimana saya harus selalu memperlakukan kemampuan saya dengan cara yang baik. Setiap pengetahuan atau kemampuan yang saya miliki seharusnya tidak membuat saya menjadi orang yang sombong, apalagi saya jadikan pembenaran untuk menganggap diri saya superior.

Lalu seperti biasa, saya mulai merasa bahwa skill untuk menjadi orang baik ini sama seperti kemampuan saya untuk melakukan asana saat beryoga: akan bisa untuk saya terapkan kalau saya terbiasa untuk menerapkannya.

Semuanya terjadi karena asana yoga pada awalnya memang bukan bentuk-bentuk yang familiar untuk dilakukan oleh tubuh saya.

Beberapa kali saya terguling saat mencoba melakukan asana yoga. Saya pernah mengalami jari yang terkilir sampai sakit berbulan-bulan bahkan menghantam lantai studio dengan hidung sendiri. Semuanya terjadi karena asana yoga pada awalnya memang bukan bentuk-bentuk yang familiar untuk dilakukan oleh tubuh saya, dan membutuhkan proses sampai tubuh saya terbiasa untuk melakukannya. Proses ini pun juga berlaku sebaliknya, yaitu ketika saya tidak melatih tubuh saya untuk melakukan suatu asana, seringkali tubuh saya jadi ‘lupa’ bagaimana melakukannya.

Hal yang sama–menurut saya–berlaku juga dalam berbuat baik. Kalau saya terus-menerus membiasakan diri untuk membantu orang lain–seperti yang Mbak Elisa lakukan–tentu saya tidak akan menganggap berbuat baik itu sulit untuk dilakukan. Mengamalkan pengetahuan saya dalam jalan yang baik harusnya menjadi kegiatan yang tidak asing untuk saya lakukan setiap saat.

Menjadi semakin ahli dalam satu hal tidak harus menyurutkan kebaikan hati saya.

Menjadi semakin ahli dalam satu hal tidak harus menyurutkan kebaikan hati saya. Bahkan kedua hal itu harus selalu saya upayakan untuk berjalan beriringan. Tanggung jawab saya adalah supaya ilmu yang saya miliki menjadi baik dan berguna bagi manusia lainnya. Tidak peduli seberapa kecil kepintaran atau kekuatan yang saya miliki saat ini, dan tidak harus menunggu sampai saya memiliki keahlian yang luar biasa.

“With great power comes great responsibility.”

Mungkin kalimat familiar yang sering dikutip dari film Spider-Man itu tepat untuk menggambarkan apa yang baru saja saya sadari. Mudah-mudahan kesadaran ini bisa saya pertahankan sampai saya tua nanti.

 

Namasté 🙂

 

PS: Usulan nama untuk sepeda saya tercinta masih saya tunggu sampai jam 12 malam ini, ya 😀 Silakan baca di sini [link] untuk ikut berpartisipasi.

 

1minggu1 cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s