Pengalaman Upacara

Di SMA saya, ada sebuah tradisi upacara yang–sejauh ini–belum pernah saya temukan di sekolah lain, yaitu Upacara 17 Agustus dan Upacara Panji. Kedua upacara ini istimewa karena petugasnya adalah beberapa murid kelas 1 (atau X) yang dipersiapkan secara khusus oleh para senior dari Subseksi Upacara–atau Siera. Kalau Upacara 17 Agustus adalah upacara yang serupa dengan upacara rutin, Upacara Panji adalah upacara khusus yang diadakan sebagai pelantikan para pengurus OSIS dan MPK yang baru. Kebetulan, saya dulu tergabung dalam petugas Upacara Panji sebagai protokol upacara.

Saat itu, saya sendiri bukanlah penggemar upacara. Buat saya, berdiri diam selama setengah jam sambil berjemur di bawah matahari bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Saya juga tidak punya pengalaman menjadi petugas sejenis sebelumnya, kecuali ketika SD, saat semua kelas memang digilir satu per satu untuk menjadi petugas upacara bendera hari Senin. Saya selalu merasa bahwa upacara itu menyebalkan, membosankan, dan panas.

Saya selalu merasa bahwa upacara itu menyebalkan, membosankan, dan panas.

Tapi sebagian kecil dari diri saya memang dikaruniai rasa penasaran yang cukup tinggi. Ketika pertama kali melihat kakak-kakak Siera menjalankan tugasnya di upacara penerimaan siswa baru, saya melihat mereka sangat menikmati apa yang mereka lakukan. Ini yang menumbuhkan rasa ingin tahu saya. Apakah memang ada bagian dari upacara yang bisa dinikmati?

Selama beberapa minggu, saya dan teman-teman saya mengikuti persiapan setiap pulang sekolah. Sejujurnya, saya sudah lupa detail persis dari proses persiapan ini, tapi yang jelas, persiapan ini membuat saya selalu sampai di rumah malam hari, dan membuat saya cukup akrab dengan sit up dan push up. Karena begitu banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, dan banyaknya ‘penderitaan’ yang kami alami bersama, beberapa teman yang cukup dekat dengan saya selama SMA adalah teman-teman yang saya temui di pasukan ini.


Empat hari kemarin, saya mengikuti kelas yoga yang fokus melatih kekuatan core muscles. Untuk saya yang bisa dibilang payah dalam urusan kekuatan otot, dua hari pertama kelas tersebut adalah pengalaman yang cukup traumatis. Yang saya rasakan hanya panas-pegal-panas-pegal-panas-pegal, seperti halnya latihan-latihan core muscles lain yang pernah saya ikuti. Di hari ketiga, mulai tumbuh rasa takut yang luar biasa, sampai rasanya untuk berangkat dari rumah saja kaki saya sudah gemetar.

sampai rasanya untuk berangkat dari rumah saja kaki saya sudah gemetar.

Tapi di hari keempat, kelas tersebut berubah menjadi salah satu kelas paling menyenangkan yang pernah saya ikuti seumur hidup saya. Bukan karena gerakan latihan atau asana yang kami lakukan menjadi lebih mudah, tapi karena di kelas tersebut–entah keajaiban dari mana–untuk pertama kalinya saya mendengar lagu favorit saya ini dimainkan dalam sebuah kelas yoga:


Kalau ada satu hal yang membuat saya mensyukuri dua pengalaman itu, adalah karena mereka meyakinkan saya bahwa tidak ada hal yang membahayakan dari mencoba mengenali sesuatu yang selama ini saya takuti atau kita benci. Memang tidak selalu hasil akhirnya adalah rasa sayang, tapi melalui perkenalan, paling tidak saya akan mengurangi satu hal yang saya takuti di dunia ini. Lagipula, toh selalu ada yang bisa saya sukai dalam hal-hal yang saya takuti atau saya benci.

Lagu favorit dan teman-teman baru adalah dua hal yang berhasil ‘menghibur’ saya selama menjalani proses yang–untuk saya pribadi–menakutkan. Dua hal yang sebenarnya wajar sekali untuk ditemukan. Lagu dari The XX bisa dengan mudah saya play melalui Spotify atau YouTube. Teman-teman baru pun bisa saya temukan dalam berbagai group chat–meskipun tetap sulit untuk menemukan yang benar-benar ‘klik’. Tapi kedua hal itu ternyata terasa berkali-kali lipat lebih berharga ketika saya temui dalam situasi yang menantang.

Saya mungkin masih akan memicingkan mata setiap kali mendengar kata ‘upacara’ dan ‘core class’. Mungkin saya masih butuh ratusan upacara dan ribuan jam latihan core untuk bisa menyayangi rasa pegal di kaki atau rasa panas di otot perut saya. Saya juga masih memiliki ribuan ketakutan lain yang harus saya kenali satu per satu–mulai dari gelap, ketinggian, binatang, sampai kegagalan.

Mudah-mudahan saya segera dipertemukan dengan hal-hal yang membuat ketakutan-ketakutan saya terasa tidak terlalu mencekam, ya. Dan tentunya, doa yang sama juga untuk kalian yang membaca tulisan ini.

Namasté 🙂

10 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s