Flu dan Fleksibilitas

Dua minggu belakangan ini, hari Senin saya selalu diisi dengan berita kurang baik tentang kesehatan saya. Minggu lalu, saya menerima hasil panoramic rontgen geligi saya dan menemukan bahwa dua gigi geraham bungsu saya berada dalam posisi ‘Savasana’ alias terbaring sempurna. Minggu ini, di tengah perayaan Idul Adha di rumah orang tua, tiba-tiba saya tidak berhenti bersin-bersin dan hidung sampai ke tenggorokan saya rasanya gatal sekali.

Karena itu, setelah menyelesaikan jadwal mengajar pagi tadi, saya tidak banyak melakukan apa-apa selain berselimut dan menggelonggong diri sendiri dengan air putih. Herannya, obat flu yang kemarin sukses membuat saya terkapar dan linglung seharian hari ini kurang berhasil melelapkan saya dalam tidur. Jadilah saya malah membuka laptop dan menulis post ini.


Jadi ceritanya, ketika beberapa menit yang lalu saya berusaha untuk tidur, saya malah kepikiran sama sebuah kalimat yang sempat saya post di Instagram satu bulan yang lalu:

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

“Flexibility shows you how to be more free, caring, honest, and creative.”

-Bob Cooley

Kalimat ini saya temukan dalam sebuah buku berjudul ‘The Genius of Flexibility’ (detail lebih rinci tentang buku ini bisa dilihat di sini: [link]). Di sebuah bab dalam buku tersebut, Cooley menyebutkan satu per satu manfaat dari latihan fleksibilitas. Beberapa poin terdengar tidak asing, seperti mencegah cedera, membuat kita menjadi lebih nyaman dengan tubuh kita, dan menyembuhkan nyeri atau sakit-sakit yang kita rasakan. Tapi beberapa poin lain–terutama yang terangkum dalam bagian spiritual, emotional, dan psychological benefits–terdengar cukup aneh, bahkan sedikit maksa.

Salah satu contohnya adalah poin yang saya abadikan dalam foto di atas. Saya sendiri bahkan sedikit tersenyum saat membacanya. Bukan karena poin tersebut terdengar menggelikan, tapi saya tidak terbayang ada seseorang yang begitu berani menuliskan hal tersebut sebagai manfaat dari latihan peregangan.

Yoga–dan kebiasaan sehat lainnya–menurut saya sangat mirip dengan bersekolah.

Yoga–dan kebiasaan sehat lainnya–menurut saya sangat mirip dengan bersekolah. Kita–yang mengalami hari-hari bersekolah–dapat dikatakan menjadi ‘produk’ dari kurikulum yang kurang lebih serupa. Tapi kalau masing-masing dari kita dihadapkan dengan pertanyaan: ‘Apa saja yang kamu pelajari di sekolah?’ Tentu jawaban saya akan berbeda dari jawaban orang lain. Sama seperti itu, di dalam satu kelas yoga dengan sequence yang sama pun masing-masing orang dapat pulang dengan membawa ‘hikmah’ yang berbeda-beda.

Menurut pengertian saya selama ini, ‘hikmah’ dari kelas yoga yang berbeda-beda penyerapannya ini sangat berkaitan dengan attitude seseorang dalam menyikapi kelas tersebut. Contohnya, orang yang sering mengikuti kelas yoga tentu akan lebih cepat merasa nyaman dengan suasana kelas yoga yang dia ikuti. Dengan semakin nyaman ia berada di dalam kelas, ia pun semakin merasa bebas untuk mengekspresikan perasaannya–mulai dari bernapas lega (beberapa orang bahkan malu untuk menghela napas panjang di dalam kelas yoga karena takut ‘ketahuan’ ngos-ngosan), sampai meringis kesakitan dalam Pigeon Pose.

Dalam pemahaman saya ini, fleksibilitas dan keberanian untuk mengekspresikan diri adalah dua hal yang bisa tumbuh dalam saat yang bersamaan ketika seseorang rajin beryoga. Namun kedua hal ini–saya kira–bukan merupakan implikasi langsung dari satu sama lain. To my surprise, menurut Cooley, dua hal ini memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung yang bahkan berlangsung dua arah.


Sebagaimana pengetahuan saya tentang tubuh saya sendiri yang ternyata baru secuil (karena saya bahkan baru tahu bahwa pertumbuhan gigi bungsu saya tidak normal 🙄 ), pengetahuan saya tentang yoga, fleksibilitas, dan stretching pun ternyata masih saaangat sedikit. Lagi-lagi saya merasa semakin ‘dipecut’ untuk belajar lebih banyak dan berlatih lebih giat (setelah sembuh dari flu ini, tentunya).

Tapi terlepas dari salah atau benarnya pemahaman saya tentang yoga dan fleksibilitas selama ini, saya merasa cukup lega untuk tersenyum. Mudah-mudahan saja apa yang saya bagi di dalam setiap kelas dapat membawa dunia ini menjadi lebih baik–even just for one person at a time. Bukankah akan menyenangkan kalau dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang caring, honest, dan kreatif? 🙂

 

PS: Post ini diketik dengan ditemani oleh lagu-lagu dari band bernama Random Forest. Yang sedang mencari lagu-lagu tenang untuk istirahat atau relaksasi, silakan play:

Namasté.

1minggu1 cerita

8 Comments

  1. aku selalu mengagumi orang-orang yang konsisten olahraga.
    karena aku sendiri juga darurat olahraga banget ini 😦
    kerasa loh, gampang capek dan bisa dengan mudah ketularan sakit.

    dulu banget punya niat seminggu sekali jalan dari rumah ke kantor. mudah-mudahan bisa segera terwujud ❤

    Like

  2. teteh instruktur yoga? wah keren banget.. baca ini jadi inget udah lama banget ga olahraga hiks
    dulu dket rumah ada sanggar yoga enakeun suka disitu.. sekarang tutup.. ada yg campur cewe cowo.. ah ga suka 😦

    Like

Leave a Reply to Dyahsynta Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s