Hati Kecil

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah terlibat sebuah pembicaraan dengan seorang teman. Topiknya cewek banget, yaitu ngomongin pacar masing-masing (saat itu). Teman saya mengeluh karena merasa pacarnya tidak begitu mempedulikan dia–atau paling tidak, cara pedulinya tidak sesuai dengan yang teman saya harapkan.

Pacar teman saya ini memang cukup unik. Di tahun 201x (saya sensor tahun persisnya, karena saya juga nggak inget :p ), ketika semua orang sudah mengantungi smartphone, pacarnya ini masih terasing dari WhatsApp. Dia tidak punya akun media sosial apapun. Satu-satunya penanda eksistensinya di dunia maya hanyalah alamat e-mail, itupun hanya dicek paling sering satu kali seminggu.

Satu-satunya penanda eksistensinya di dunia maya hanyalah alamat e-mail

Sementara teman saya memiliki habit ber-dunia maya yang mirip dengan saya. Ia punya akun Facebook, Twitter, dan bahkan sebuah blog yang cukup rutin di-update (ketika itu Instagram–apalagi Path–belum banyak digunakan).

Tanpa saya duga, ternyata perbedaan yang awalnya saya kira tidak akan mengganggu mereka ini justru menjadi penyebab utama perasaan ‘tidak dipedulikan’ yang dirasakan oleh teman saya. Alasannya simpel: karena pacarnya tidak pernah tahu apa yang ditulis oleh teman saya ini di dunia maya, sehingga setiap kali mereka ngobrol, teman saya harus menceritakan kembali apa yang sudah pernah ia ceritakan di Twitter atau blog-nya.

“Padahal kalo dia baca blog gue kan dia pasti tau ceritanya, Syn.”


Teman saya ini memiliki banyak hobi dan minat tapi semuanya dikesampingkan demi mengejar kemapanan

Ada lagi cerita tentang teman saya yang lain. Sejak memutuskan untuk menikah, teman saya ini mendedikasikan kariernya untuk bekerja sebagai karyawan. Katanya, untuk memantaskan diri menjadi suami yang bertanggung jawab pada istri dan anaknya nanti. Teman saya ini memiliki banyak hobi dan minat–mulai dari musik sampai berbisnis–tapi semuanya dikesampingkan demi mengejar kemapanan. Ini adalah hal yang baik, tentunya, karena sebagai laki-laki dia bisa membedakan apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya.

Hal baik ini baru menjadi cerita ketika saya bertemu dengan salah seorang mutual friend kami. Si mutual friend ini mengungkapkan kepusingannya dengan sungguh-sungguh. Katanya, perubahan yang dialami oleh teman saya juga diikuti dengan perubahan lain: dia jadi sangat banyak mengeluh.

Melihat teman lain yang masih punya waktu untuk berlatih bersama band-nya di studio, ia mengeluh. Katanya dengan rutinitas bekerja 9-to-5 dan jarak antara kantor dan tempat tinggalnya, memiliki waktu untuk hobi adalah nyaris tidak mungkin. Melihat saudaranya masih rajin mengunjungi gym dan berhasil menamatkan beberapa run race, ia kembali mengeluh–tetap dengan mengeluhkan faktor yang sama, yaitu waktu luang.

Si mutual friend ini pun jadi lelah karena terus-menerus dicekoki keluhan negatif oleh teman saya.

“Padahal kan dia sendiri yang milih ya, Syn.”


Kalau mengingat dua cerita itu, saya jadi sadar bahwa kita bisa memalsukan banyak hal, tapi kita tidak pernah bisa memalsukan rasa peduli.

kita tidak pernah bisa memalsukan rasa peduli

Teman saya yang pertama, tidak bisa pura-pura tidak peduli bahwa pacarnya tidak peduli dengan aktivitasnya di dunia maya. Teman saya yang kedua, tidak bisa pura-pura tidak peduli akan hal-hal yang membuat dia merasa passionate. Bagaimanapun mereka beralasan bahwa kepura-pura-tidak-pedulian itu mereka lakukan untuk kebahagiaan bersama pasangannya, mereka telah mengorbankan satu kebahagiaan: kebahagiaan hati kecil mereka.

Pengorbanan memang suatu konsep yang tidak terelakkan ketika kita berhubungan dengan orang lain–baik sebagai teman, keluarga, atau pasangan. Saya termasuk orang yang suka menelan kekecewaan diri sendiri demi kebahagiaan orang lain. Dan saya pun beberapa kali merasakan orang lain menahan egonya supaya bisa membahagiakan saya.

Katanya, perasaan berkorban demi orang yang kita sayangi adalah bentuk rasa sayang yang paling luar biasa.

Tapi mengacuhkan hati kecil tidak pernah membuahkan hasil yang manis. Jika memang manis, mengulang-ngulang cerita yang sama terus-menerus akan terasa menyenangkan. Jika memang manis, tidak memiliki waktu luang untuk hobi tidak harus dikeluhkan.

Kenyataannya, seringkali kita terlalu sibuk berkorban untuk orang yang kita sayangi, sampai kita lupa bahwa mereka juga ingin sekali melihat kita bahagia.

“You don’t just have to die for the people you love.
You have to live for them, too.”

 

1minggu1 cerita

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s