Sepuluh Ribu = Mahal

10 hari pertama di Bulan Ramadan ternyata membawa saya jadi banyak bersyukur. Karena sedikit keajaiban (dan banyak kemauan), saya kembali mengakrabkan diri dengan hobi-hobi yang sempat saya telantarkan. Menulis post ini tentu termasuk salah satu di antaranya. Tapi selain itu, saya juga kembali bersentuhan dengan hakken dan novel-novel yang entah sudah berapa lama saya biarkan teronggok di rak.

Inilah ‘harga’ yang harus saya bayar karena terlalu serakah dalam berhobi.

Sempat saya sebut juga di post saya sebelumnya [link] bahwa keserakahan ini memegang andil besar dalam menciptakan kegalauan di diri saya setelah lulus kuliah. Saat itu, saya baru sadar bahwa ternyata menyenangi banyak hal itu sama membingungkannya dengan tidak menyukai apa-apa. Ketika saya dihadapkan dengan pertanyaan, ‘Kira-kira pekerjaan apa yang bisa membuat kamu bahagia dan semangat dalam menjalaninya?’ Saya sering terdiam. Bukan karena tidak tau apa jawabannya, tapi karena jawaban yang muncul di kepala saya terlalu banyak–sampai saya bingung harus menyebutkan yang mana.

Sepuluh Ribu Jam

Saya pun jadi teringat pada sebuah teori yang dicetuskan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers. Saya lupa kapan persisnya saya mendengar teori itu untuk pertama kalinya. Yang saya ingat, di situ Gladwell merumuskan bahwa untuk menjadi ahli dalam suatu bidang, seseorang harus menekuninya selama–paling tidak–sepuluh ribu jam.

…untuk menjadi ahli dalam suatu bidang, seseorang harus menekuninya selama–paling tidak–sepuluh ribu jam.

Tentunya angka sepuluh ribu jam di sini bisa saja diartikan sebagai kiasan. Pada dasarnya, kita semua tentu sudah paham bahwa jika kita rajin melatih sebuah skill, maka kita bisa menguasainya. Namun menariknya, dalam buku tersebut Gladwell memberikan beberapa contoh di mana angka sepuluh ribu tersebut justru diartikan secara harfiah.

 

sepuluh ribu
Hore, udah sepuluh ribu jam

Salah satu contoh kasus yang menjadi favorit saya adalah The Beatles. Perhitungan yang dilakukan oleh Gladwell terkait band legendaris ini cukup sederhana (jika tidak mau dikatakan terlalu disederhanakan): The Beatles dibentuk pada tahun 1960. Sejak saat itu, mereka rajin ‘menabung jam terbang’, sehingga pada tahun 1962 mereka dapat mencapai angka manggung 8 jam per malam. Pada tahun 1964, ketika mereka go international, mereka sudah memiliki ‘tabungan’ paling tidak 1.200 konser. Dengan perkalian sederhana, maka total waktu konser dalam tabungan mereka sudah mendekati angka sepuluh ribu jam.

(Pembahasan yang lebih jelas tentang teori ini bisa kamu temukan di sini: [link])

Singkat kata, angka sepuluh ribu inilah yang menjadi sumber kegalauan saya–bersama dengan ribuan (atau jutaan?) orang lainnya yang memiliki terlalu banyak hobi–dan juga yang tidak memiliki hobi. Kami tidak belum memiliki tabungan jam terbang apapun untuk memasuki dunia profesional.

Burukkah Ini?

Menurut saya, antara ya dan tidak.

Meskipun terdengar berat, namun seperti yang dicontohkan dalam kasus The Beatles tadi, sebenarnya sepuluh ribu jam itu sangat memungkinkan untuk ditabung dalam 5-6 tahun. Syaratnya hanya satu: konsisten. Dan lagi-lagi, muara permasalahan konsistensi ini hanya satu: kemauan.

Untuk mereka yang belum memiliki hobi, sebuah pekerjaan tetap dengan job description yang jelas tentu membantu mereka ‘menabung’ sepuluh ribu jamnya. Dalam 5-6 tahun, mereka pun sudah ahli dalam suatu bidang yang spesifik. Dan siapa tau, mungkin saja pada akhirnya pekerjaan ini menjadi hobi tersendiri bagi mereka.

Untuk mereka yang memiliki terlalu banyak hobi (seperti saya), well, mau tidak mau… harus memilih. Paling tidak, memilih hobi yang paling memungkinkan untuk dieksplor selama sepuluh ribu jam. Ini bisa berupa hobi yang membuat kita paling bahagia, atau hobi yang–secara finansial–mampu membiayai hidup kita sembari kita menabung jam. Jujur saja, untuk saya, hal ini sangat berat–jika tak mau disebut tidak mungkin ._.

Setelah menyadari hal ini, tidak ada hal lain yang lebih membuat saya iri daripada melihat teman-teman saya yang bidang kuliahnya sejalan dengan hobinya. Kenapa? Tentu karena selama minimal 4 tahun, mereka sudah menabung ribuan jam untuk mengasah kemampuannya dalam mengeksekusi hobi mereka–plus dapat ‘senjata’ tambahan berupa ijazah pula. Setelah dinyatakan lulus, mereka pun bisa dengan mudah menentukan jalan hidup. Bandingkan dengan orang-orang seperti saya, yang setelah menamatkan kuliah, justru menemukan ketertarikan besar pada banyak hal kecuali yang saya pelajari saat kuliah.

Alasan yang tepat untuk merasa putus asa, kan? 😀

Tapi tunggu dulu.

Hei, yang namanya waktu, pasti terus bergulir. Selama masih ada umur, tentu saya masih memiliki jam untuk ditabung. Mungkin titik awal saya untuk menabung jam dengan serius sedikit lebih lambat dimulainya jika dibandingkan dengan orang lain. Tapi bisa saja jam-jam yang saya tabung ketika saya menjalani hobi tersebut untuk sekedar bersenang-senang ternyata bermanfaat juga, kan?

Lagipula, dengan banyaknya hobi yang pernah–atau masih–saya sukai, saya jadi memiliki satu ‘tabungan’ tersendiri berupa hal-hal yang saya sukai namun gagal saya jadikan profesi. Toh, kalau mengutip Thomas Alva Edison, menemui kegagalan bukan berarti menjauhkan kita dari keberhasilan:

“I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.”

-Thomas Alva Edison

Selanjutnya? Mari banyak berdoa 😀

1minggu1 cerita

6 Comments

  1. Dulu aku pernah ditanya “kamu pengen dikenal sebagai apa sih?” trus gak bisa jawab, hahaha. Tapi punya banyak hobi kadang menguntungkan juga sih, untuk beberapa hal jadi bisa dikerjain sendiri walaupun yaah seadanya lah… 😀

    Like

  2. Emmmm…….. 10 ribu jam yang menghasilkan kesuksesan pasti diawali dari detik dan menit yang berharga dan dimanfaatkan sebaik mungkin ya ^_^ slam kenal..mb dyah shinta sesama member 1m1c

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s